“GENDANG LOCE” DAN KEPEMIMPINAN KOLEKTIF KOLEGIAL

Mungkin sepintas ketika kita membaca judul diatas terkesan absurd. Terkesan absurd lantaran kedua farasa Gendang Loce dan Kepemimpinan Kolektif Kolegial jika dilihat dari kacamata system pemerinahan merupakan dua system pemerintahan yang dari segi waktu sangatlah berbeda. “gendang” merupakan system pemerintahan adat yaitu di Manggarai sedangkan Kepemimpinan Kolektif Kolegial adalah sebuah model kepemimpinan yang baru ditemukan dan diterapkan diera modern seperti skarang ini. Nah untuk menjawab pertanyaan paling mendasar apa maksud dari judul diatas dan apa hubungan keduanya. Penulis akan mencoba menjelaskan scara terperenci diawali dengan menjelaskan tentang “Gendang Loce” lalu diikuti dengan penjelasan tentang “Kpemimpinan Kolektif Kolegial” dan diakhiri dengan menjelaskan tentang hubungan antara keduannya.

Gendang Loce

Seperti yang sudah saya jelaskan dalam artikel sebelumnya yaitu “Gendang Berpolitik” bahwa kata gendang dalam masyarakat adat Manggarai memiliki tiga makna, tetapi yang akan dibahas disini adalah makna ketiga yaitu perkumpulan masyarakat adat yang hidup disuatu daerah yang dipimpin oleh Tu’a Golo. Sedangkan Loce adalah sebuah perkampungan di pedalaman Manggarai Tengah tepatnya di Desa Loce Kec. Reok Barat Kabupaten Manggarai. Oleh karena itu, Gendang Loce dapat kita artikan sebagai perkumpulan masyarakat adat yang hidup di Loce. Sama halnya dengan kampung-kampung lain di Manggarai Raya, Loce memiliki sebuah perkumpulan masyarakat adat yang dinamakan dengan Gendang Loce yang dipimpin oleh Tu’a Golo. Tetapi sedikit berbeda dengan gendang-gendang pada umumnya di Manggarai, jika pada umumnya di Manggarai Raya gendang dipimpin oleh seorang Tu’a Golo sedangkan di Gendang Loce dipimpin oleh tiga orang Tu’a Golo. Tiga orang Tu’a Golo tersebut merupakan manifestasi dari tiga perwakilan suku yang ada di Loce yaitu Empo Tu’a, Empo Sreha dan Empo Cucu. Jika di telisik lebih jauh kebelakang hadirnya ketiga suku ini merupakan pengejawantahan tiga anak dari nenek moyang Orang Loce (empoJelet).Jika disusun berturut-turut adalah EmpoTua merupakan turunan dari anak sulung EmpoJelet, Empo Sreha adalah turunan dari anak kedua dari Empo Jelet, serta Empo Cucu adalah turunan anak bungsu dari Empo Jelet. Oleh karena itu, dalam setiap pengambilan keputusan terkait dengan kemasalahatan di Loce haruslah berdasarkan hasil dari kputusan tiga orang Tu’a Golo tersebut.

KepemimpinanKolektifKolegial

            Secara etimologis kepemimpinan yang kolektif kolegial berasal dari kata kolektif yang berarti secara bersama-sama atau secara gabungan dan kolegial berartibersifat teman sejawat atau akrab seperti teman sejawat. Kepemimpian kolektif kolegial secara terminologis dapa tdiartikan sebagai suatu bentuk keemimpinan yang mana tiap-tiap anggotanya mempunyai peranan dan tanggungjawab yang sama besar dalam mengemban amanat sebuah perkumpulan dan atau persekutun. Untuk mencapai kepemimpinan yang kolektif kolegial tersebut diperlukan pranata musyawarah mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. Telah menjadi pengetahuan bersama bahwa mekanisme musyawarah mufakat sebagai local wisdom sudahlah tepat diakomodir dalam mekanisme pengambilan keputusan dalam sebuah perkumpulan atau persekutuan. Model kepemimpinan kolektif kolegial dapat kita temukan dalam system peradilan di Indonesia seperti di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpin oleh lima orang pimpinan KPK, Mahkamah Konstitusi yang dipimpin oleh Sembilan Hakim Konstiusi dan masih banyak lagi.

Dari kedua pembahasan diatas dapatlah kita tarik benang merah dari keduanya guna menjawab pertanyaan apa hubungan antara Gendang Loce dengan Kepemimpinan Kolektif Kolegial. Mengingat gendang Loce adalah satu-satunya gendang di Mnggarai Raya yang memiliki tiga orang Tu’a Golo memiliki kemiripan dengan system kepemimpinan kolektif kolegial yang dipmpin oleh lebih dari satu orang. Selainitu, dalam system kepemimpinan kolektif kolegial pimpinan biasanya berjumlah ganjil hal tersebut bertujuan untuk menghindari keputusan yang deadlock. Gendang Loce sendiri pemimpinnya juga berjumlah ganjil yaitu tiga orang Tu’a Golo. Sehingga tak salah jika penulis menyimpulkan bahwa Gendang Loce menjadi satu-satunya gendang di Manggari Raya yang menganut system kepemimpinan yang kolektif Kolegial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: