EMPO JELET-Tujuan Ke Loce dan Kepercayaan Yang Dianutnya

Pencarian akan asal usul sebuah masyarakat adat sangat perlu dan penting. Hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi kesimpangsiuran berita sejarah, Sehingga masyarakat adat yang hidup di masa sekarang dan masa datang tidak salah dalam memaknai sejarahnya sendiri.  Oleh karena itu, kepastian sejarah menjadi sangat urgent dilakukan. Pencarian akan informasi sejarah seperti kisah-kisah dari informan(orang terdekat pelaku sejarah), kisah yang diceritakan secara temurun dari suatu masyarakat adat dan sumber-sumber tertulis merupakan  cara terbaik untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi di masa silam.

Cerita tentang asal usul masyarakat adat Loce khususnya cerita tentang sosok nenek moyang masyarakat adat Loce yaitu Empo Jelet(Endok) masih sangat minim. Hal tersebut disebabkan karena selama ini sosok nenek moyang masyarakat adat Loce hanya didapat dari kisah-kisah yang secara turun temurun diceritakan dari generasi ke generasi. Kisah-kisah tersebut juga sangat-sangat sulit dipercaya karena kisah-kisah tersebut memiliki beragam versi. Selain itu, tidak adanya data pembanding seperti dari informan utama (generasi pertama dari pelaku sejarah yaitu Jelet) dan sumber-sumber tertulis merupakan ketidakpercayaan terhadap kesahihan terhadap kisah tentang Empo Jelet yang diceritakan secara turun temurun. Seperti pada cerita tentang dari mana asal Empo Jelet,  mengapa sampai Empo Jelet berdiam dan bermukim di Niang Manga (sebelah timur kmpung Loce sekarang), dan apa agama yang dianut Empo Jelet sampai sekarang belum ditemukan kebenaran ilmiahnya.

Khusus untuk mengapa Empo Jelet sampai di Loce dan apa agama dari Empo Jelet tidak pernah dibahas dalam dalam kisah tentang Empo Jelet. Hal tersebut bisa dilihat pada tulisan saya tentang Empo Jelet dalam blog ini yang merupakan hasil wawancara saya dengan Bpk Yakobus Antus (tetua adat Kampung Loce) sekitar tahun 20007 silam dan perbincangan saya dengan Om Sis Lewo(keturunan Empo Jelet) beberapa waktu lalu di daerah Utan Kayu Jakarta Timur. Kedua informan tersebut sama sekali tidak membahas atau membicarakan mengapa Empo Jelet sampai di Loce dan agama apa sebenarnya yang dianut oleh Empo Jelet. Maka dari itu untuk mnelusuri dan mencari jejak sejarah tentang alasan Empo Jelet ke Loce dan agama yang dianut oleh Empo Jelet, penulis mencoba menggunakan metode perbandingan. Untuk menggunakan metode perbandingngan tersebut penulis akan menggunakan dua data yaitu pertama kisah tentang Empo Jelet yang diceritakan secara turun temurun (wawan cara dengan Bpk yakobus Antus dan perbincangan saya dengan Om Sis Lewo). Dan yang kedua sebagai data pembandingnya adalah sumber tertulis yaitu buku yang ditulis oleh Dami N Toda dengan Judul Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi (Nusa Indah; 1999).

Karena dalam kisah tentang Empo Jelet tidak pernah dibahas secara tersurat tentang alasan Empo Jelet sampai di Loce dan agama yang dianut oleh Empo Jelet maka penulis akan menggunakan/menganalisis makna tersirat dari kisah tentang Empo Jelet untuk menemukan jawaban kedua pertanyaan tersebut diatas. Untuk mencapai pembahasan tersebut terlebih dahulunya penulis akan mengutip tulisan Dami N Toda dalam bukunya  Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi (Nusa Indah; 1999) tentang Kerajaan Todo yang memiliki kemiripan kisah dengan Empo Jelet.

Dalam bukunya Dami N Toda mengungkapkan “untuk ketepatan interpretasi fakta sejarah sebuah kisah berjudul Kraeng Mashur Nera Beang Bombang palapa asal Pagaruyung(Minangkabau), moyang pengasal Kraeng-Kraeng Todo-Pongkor. Asal muasa perpindahan pemukiman dari Wareloka, Lale Bombang, Weri Ata ke Todo yang dikisahkan mengikuti arah babi(ela) piaraan sang tokoh yang pergi bersarang jauh lebih dari seratusan kilometer untuk melahirkan anak di Todo.”(Dami N Toda Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi halaman 43) Lebih lanjut Dami N Toda mencoba menganalisis kisah tersebut(tombo turuk) tersebut dengan mengkritik Coolhaas dan Van Bekkum sebagai pengkodifikasi kisah tentang Todo dalam bentuk tulisan.

Selangkapnya Dami N Toda berpendapat “Coolhaas dan Van Bekkum tidak siap menangkap kisah itu sebagai metafor yang inklusif mengandung kesungguhan historis. Coolhaas dan Van Bekkum pun mmencatat kisah itu denotatif dengan tidak lebih sebagai ilustrasi fiksi mitos menarik tetapi kontaminatif, karena tidak logis bila tokoh Mashur yang diceritakan sebagai muslim dan turunan bangsawan raja Pagarujung itu memelihara babi. berdasarkan bukti-bukti jelas tersebut terungkap alur fakta sejarah yang bercorak nyata. Bahwa babi (ela) dalam kisah itu ternyata hanyalah metafor untuk wanita asli Manggarai(klan pemakan daging babi) bernama rewung ngoel putri Larung dan Peti Ine Holas dari negeri Desu (wilayah Todo kini), masih keturunan wangsa Ngkuleng bernama Poca. Rewung Ngoel di kawini Kraeng Mashur(pendatang Minangkabau) yang Islam/haram daging babi di Lale Lombong-Weri Ata.( Dami N Toda Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi halaman 44)”.

Dari analisis yang dilakukan oleh Dami N Toda terhadap Keberadan Todo-Pongkor penulis mencoba menarik benang merah antara kisah Kraeng Mashur(Todo) dan Kisah Empo Jelet sehingga didapat beberapa kemiripan kisah diantara keduannya. Adapun kemiripan kisah antara keduanya adalah sebagai berikut. Pertama, antara Kraeng Mashur dan Empo Jelet sama-sama berasal daerah yang mayoritas masyarakatnya beragama muslim (Mashur dari Minangkabau dan Empo Jelet dari Bima) sehingga dapat disimpulkan meskipun agak prematur bahwa sangat mungkin Empo Jelet beragama muslim. Bukti lain yang mendukung argumentasi ini adalah tulisan Dami N Toda yang menyebutkan dalau RPN Ruis, Pasat, dan Nggalak adalah dibawah kekuasaan Mori Reo yang taklain adalah masuk bagian dari klaim kerajaan Bima. Kedua, anatara Kraeng Mashur dan Empo Jelet sama-sama mengikuti jejak babi peliharaan untuk sampai ketempat tujuan mereka masing-masing (Kraeng Mashur dari Wareloka ke Todo smentara Empo Jelet dari Longge ke Golo Nggoleng/Niang Manga-sebelah timur kampung Loce sekarang). Oleh karena itu, jika memang benar Empo Jelet beragama muslim sangatlah tidak mungkin seorang Empo Jelet memelihara babi. itu berarti, babi peliharaan yang dimaksudkan dalam kisah Empo Jelet hanyalah sebuah metafor untuk wanita asli Manggarai (klan pemakan daging babi) bernama Revas dari kampung Adok (Gendang Adat Lante). Revas dikawini Empo Jelet di Cuang dan akhirnya menetap di Golo Nggoleng/Niang Manga-sebelah timur kampung Loce sekarang.

Tentunya artikel ini hanyalah sebuah pintu masuk jika hendak menelaah dan menelusuri jejeak-jejak sejarah yang terkandung dalam kisah tentang Empo Jelet. oleh karena itu adanya penelitian lebih lanjut tentang  Empo Jelet merupakan sebuah harapan yang perlu segera diwujudkan. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: