“GENDANG” BERPOLITIK

Adat Manggarai pada umumnya mengenal kata “Gendang” dengan tiga makna. Pertama Gendang sebagai alat music; kedua Gendang sebagai rumah adat; dan yang ketiga adalah Gendang sebagai persekutuan masyarakat adat. Pada dasarnya ketiga makna tersebut saling berkaitan jika dilihat dari kacamata adat. Gendang sebagai alat music merupakan salah satu jenis alat music tradisional Manggarai yang hanya dimainkan pada saat acara adat saja. Disamping itu, Gendang sebagai rumah adat merupakan sebagai tempat masyarakat adat melangsungkan/melakukan acara adat serta tempat menyelesaikan sengketa/persoalan adat masyarakat adat itu sendiri. Sedang Gendang sebagai persekutuan masyarakat adat merupakan sebuah perkumpulan indvidu-individu yang dipersatukan oleh adanya ikatan kekeluargaan/ keturunan yang hidup disuatu daerah.

Dalam artikel ini pengertian Gendang adalah apa yang dimaksud dengan makna ketiga dari Gendang yang telah dibahas pada paragraph pertama yaitu persekutuan masyarakat adat disuatu daerah. Sebgaimana halnya dalam sebuah persekutuan masyarakat, “Gendang” di Manggarai juga memiliki hirarki kepemimpinan, hierarki kepemimpian dalam adat Manggarai tidak sedetail seperti kepemimpinan dalam Negara demokrasi. Gendang hanya mengenal tiga kepemimpinan yaitu “Tu’a Gendang” sebagai pemimpinan tertinggi, “Tu’a Teno” yang bertugas mengurusi masalah pertanahan, dan “Tu’a lumpung” yang bertugas sebagai pemimpin dalam persekutuan masyarakat adat yang lebih kecil(kampung). “Tu’a Gendang” memiliki wewenang untuk memerintah dan menyelesaikan sengketa-sengketa yang terjadi dalam ruang lingkup masyarakat adat tersebut. Sehingga keputusan yang dikeluarkan oleh “tu’a Gendang” haruslah dipatuhi oleh masyarakat adat setempat. Maka dalam konteks judul artikel ini “Gendang” berpolitik maskudnya adalah masuknya “Gendang” atau keikutsertaan “Gendang” dalam sebuah proses politik/dinamika politik disuatu daerah khususnya Manggarai.

Sejak beberapa tahun terkahir ini keikutsertaan “Gendang” dalam sebuah proses politik (politik praktis) semakin marak terjadi. Keikutsertaan “Gendang” dalam sebuah proses politik dapat kita lihat pada saat Pemilu, Pemilihan Presiden, Pemilihan Kepala Daerah, bahkan sampai kepada pemilihan seorang Kepala Desa. Adanya praktek dukung mendukung dalam sebuah proses politik yang dilakukan oleh “Gendang” merupakan praktek yang sering di jumpai di Manggarai beberapa tahun terakhir. Gendang A mendukung salah satu kandidat merupakan manifestasi dari keikutsertaan “Gendang” dalam sebuah proses politik. Atau dengan kata lain, “Gendang” pada posisi ini terlibat dalam sebuah politik praktis. Dalam prakteknya, keikutsertaan Gendang dalam dukung mendukung salah satu kandidat (politik praktis) berlaku dua mekanisme yaitu “Gendang”-nya sendiri yang menawarkan kepada kandidat atau sebaliknya kandidat akan menawarkan diri untuk didukung oleh “Gendang” tersebut.

Dalam prakteknya ada beberapa penyebab mengapa “Gendang” terlibat dalam politik praktis. Pertama, memiliki ikatan keluarga dengan sang kandidat (anak Gendang). Ini adalah alasan paling rasional keikutsertaan Gendang dalam politik praktis. Persaingan antara kanidat yang begitu ketat memaksa “Gendang” sebagai keluarganya merasa perlu terlibat langsung mendukung sang kandidat agar bisa menang dalam sebuah pertarungan politik. Keuntungan lain dari “Gendang” jika mendukung sang kandidat sebagai anak Gendang adalah ketika sang kandidat menang dalam sebuah pertarungan politik maka tidak secara langsung akan mengharumkan nama Gendang tersebut. Kedua, program-program yang disampaikan cocok untuk kultur dan kebutuhan “Gendang”. Dalam praktek berpolitik di Indonesia kandidat merancang sebuah program untuk di sampaikan kepada konstituennya melalui kampanye. Program-program tersebut merupan rencana sang kandidat jika sang kandidat tersebut terpilih nantinya. Pada aspek ini tak jarang para kandidat merancang sedemikian rupa program-programnya agar menarik simpati pemilih pada hal program tersebut sulit sekali dilaksanakan atau dimplementasikan. “Gendang” dalam posisi ini, sama seperti masyarakat lainnya di Manggarai merasa tertarik dengan program-program yang disampaikan oleh sang kandidat. Sehingga tak segan-segan “Gendang” secara terang-terangan mendukung sang kandidat dan memerintahkan seluruh masyarakat adat untuk memilihnya pada saat hari pemilihan.

Ketiga, kontrak politik. Sebagaimana halnya dalam sebuah kontrak harus ada kedua belah pihak yang ingin menyepakati tentang suatu hal, ada hak dan kewajiban bagi para pihak, dan adanya sanksi jika melanggar kesepakatan. Dalam kontrak politik juga mengenal adanya ketiga persyaratan dalam kontrak tersebut. Biasanya “Gendang” melakukan kontrak politik dengan sang kandidat jika sang kandidat bersedia memenuhi semua tuntutan dari “Gendang” jika sang kandidat tersebut menang dalam sebuah proses politik. Jika antara sang kandidat dan “Gendang” sudah sepakat maka barulah setalah itu pimpinan dalm Gendang dalam hal ini Tu’a Gendang akan memerintahkan seluruh masyarakat Gendang tersebut untuk memilih sang kandidat pada saat pemilihan.

Keikutsertaan “Gendang” dalam sebuah proses politik tentunya memiliki resiko dan dampak negative bagi “Gendang” itu sendiri. Dampak negatifnya adalah keikutsertaan “Gendang” dalam proses politik memberikan kesan negative bagi “Gendang” itu sendiri karena seharusnya “Gendang” harus dalam posisi netral bukan saling dukung mendukung. Selain itu, “Gendang” merupakan sebuah persekutuan masyarakat adat bukan perkumpulan politik maka sudah seharusnya “Gendang” tidak diperbolehkan ikut serta dalam sebuah proses politik (politik praktis). Masuknya politik dalam “Gendang” tentunya akan merusak subsistem adat yang sudah dibangun selama ini. resiko lain yang harus diperhatikan adalah jika sang kandidat yang didukung oleh “Gendang” tersebut kalah dalam sebuah pemilihan maka akan sangat berpengaruh kepada pembangunan di daerah tempat “Gendang” tersebut hidup dan menetap. Oleh karena itu, menolak “Gendang” berpolitik menjadi sebuah keharusan jika tak ingin “Gendang” menjadi rusak hanya karena sebuah proses politik.

4 Komentar (+add yours?)

  1. neraslcmmcado
    Mar 19, 2015 @ 20:29:41

    pakar ahmw…salud

    Suka

    Balas

  2. ARIS GON
    Mar 20, 2015 @ 17:40:39

    he he he he tpi takutnya akan brdampak pada msyarakat itu sendirijika di teruskan terutama pada aspek pembangunan

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: