Tantangan Calon Buapti di Manggarai

Tahun 2015 adalah Tahun politik bagi sejumlah daerah di Indonesia tak terkecuali Manggarai, pasalnya pada tahun tersebut Manggarai akan melangsungkan Pemilihan Umum Kepala Daerah atau Pemilukada. Banyaknya figur yang mengajukan diri sebagai calon kepala Daerah menambah panas situasi politik di Manggarai sekarang ini. Persaingan antar calon bupati untuk merebut hati pemilih begitu terasa di Manggarai Raya, entah itu menggunakan cara-cara yang baik atupun dengan cara yang kotor semua dilakukan. Tetapi idealnya, berkampanye berbasis program adalah yang paling efektif bagi para calon bupati agar mendapat hati rakyat. Program-program yang ditawarkan juga haruslah sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan masalah yang di hadapi masyarakat setempat khususnya di Manggarai Raya.

Setidaknya ada empat permasalahan akut di Manggarai Raya Sekarang ini yang harus diketahui oleh para calon bupati dan timsuksesnya sebagai bahan rujukan dalam pembuatan program mereka. Keempat permasalahan tersebut merupakan penyebab terjadinya dua persoalan pokok di Manggarai yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. Pertama, infrastruktur. Kebutuhan akan infrastruktur memadai sangatlah penting untuk menjalankan roda perekonomian di disuatu daerah. Untuk memindahkan barang komoditi/hasil pertanian para petani dikampung-kampung ke ibu kota kabupaten tentunya membutuhkan infrastruktur jalan dan jembatan. Dari sector infrastruktur, seperti yang kita ketahui bersama bahwa di Manggarai Raya infrastruktur rupanya menjadi masalah yang sampai sekarang belum bisa diatasi. Buruknya infrastruktur (kualitas jalan dan jembatan) di Manggarai Raya (bahkan ada kampung tertentu yang tidak memiliki infrastruktur jalan) menyulitkan para petani di desa-desa dan kampung-kampung untuk menjual hasil pertanian mereka ke ibu kota kecamatan ataupun di ibu kota kabupaten. Bahkan di sebuah kampung di Kabupaten Manggarai Barat tepatnya Desa Waning-Kec. Ndoso jika musim hujan tiba maka kendaraan tidak bisa melintas didaerah tersebut karena jalannya yang rusak dan berlubang, akibatnya hasil pertanian masyarakat Waning tidak bisa diangkut ke Ruteng. Selain itu, tingginya harga barang terutama sandang dan papan merupakan efek domino dari buruknya infrastruktur. Kedua, air minum bersih. Kebutuhan akan air minum bersih memang tak bisa di tolerir karena merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Kurang airnya air minum bersih, sumber mata air yang langka, dan akses menuju mata air yang sangat jauh merupan sekelumit masalah yang umum kita temukan di Manggarai Raya. Bahkan ada yang sampai berjalan kaki berkilo-kilo meter hanya untuk mencari sumber mata air dan ada juga sampai menggunakan kendaraan roda empat (truck) dan roda dua (sepeda motor) untuk mengambil air saking terlalu jauhnya sumber mata air. Kondisi ini dapat kita temukan Kampung Loce-Desa Loce Kec. Reok Barat-Kab. Manggarai. Warga setempat menggunakan kendaraan roda empat (truck) dan roda dua (sepeda motor) untuk mengambil air, kemudian dijual kepada warga kampung dengan harga selangit. Persoalan ini tentunya harus segera ditangani jika tidak maka akan menimbulkan persoalan lain yang lebih parah.

Ketiga, listrik. Ditengah geliat pembangunan digalakan Pemerintah Indonesia saat ini terlihat sangat kontradiktif jika kita berkaca pada pembangunan di Manggarai yang jauh dari kata memuaskan. Hal tersebut dapat kita lihat pada salah satu pilar penopang pembangunan yaitu listrik. Hampir separuh dari penduduk Manggarai Raya belum menikmati listrik dan sebagiannya lagi menikmati listrik hanya mulai dari pukul 18.00-22.00 WITA setiap harinya itupun karena masyarakat tersebut menggunakan Genset. kondisi ini diperparah lagi dengan lambannya bahkan terkesan berjalan ditempat proyek PLTU Ulumbu untuk selanjutnya dialirkan ke seluruh Manggarai Raya. Kondisi ini tentunya merupakan suatu langkah mundur pembangunan di Manggarai Raya. Minimnya invoster yang ingin berinvestasi di Manggarai Raya salah satu penyebabnya adalah karena ketiadaan listrik. Oleh karena itu, solusi jitu untuk menyelesaikan persoalan kelistrikan ini merupakan sebuah keharusan jika tak ingin status sebagai daerah tertinggal terus melekat pada Manggarai Raya. Keempat, akses informasi. Di era globalisasi seperti sekarang ini informasi dirasa sebagai salah satu kebutuahan yang memang harus dipenuhi untuk menunjang aktifitas manusia seperti dibidang pendidikan, ekonomi dan bisnis. Di bidang pendidikan misalnya, terpuruknya kualitas pendidikan di NTT pada umumnya dan di Manggarai Raya pada kususnya disebut-sebut salah satu penyebabnya adalah minimnya informasi yang didapat oleh peserta didik karena hanya mengharapkan dari guru. Tak banyaknya referensi yang didapat peserta didik menyebabkan banyak peserta didik tidak bisa mengerjakan soal Ujian Nasional yang berujung pada tingkat kelulusan yang sangat rendah. Data tahun lalu saja menyebutkan bahwa NTT berada di urutan ke 34 tingkat kelulusan SMA, dan yang lebih mencengangkan lagi Manggarai berada di urutan paling buncit tingkat kelulusan di NTT. Jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, Manggarai Raya jauh dari kata memadai dari segi akses informasi. Oleh karena itu, adanya perhatian dibidang informasi menjadi keharusan jika tak ingin masalah ini terus ada.

Solusi dan penanganan yang ekstra terhadap keempat persoalan yang telah disebutkan diatas diharapkan mampu menghapus anggapan bahwa Manggarai Raya merupakan salah satu daerah yang masuk kategori daerah tertinggal. Dan keempat persoalan diatas seharusnya menjadi pusat perhatian para calon bupati dalam menyusun program-program yang akan mereka jalankan jika terpilih menjadi bupati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: