TENGKU DILA (nama & manfaat)

Tengku Dila sebuah nama yang sangat asing bagi pembaca, tetapi itu tidak berlaku bagi warga masyarakat Loce dan sekitarnya. Tengku Dila adalah nama sebuah hutan blantara di sisi timur kampung Loce-Desa Loce-kec. Reok Barat-kab. Manggarai-Flores. Entah mengapa tempat tersebut di beri nama Tengku Dila, sampai sekarang belum ada sumber tertulis maupun lisan tentang pemberian nama Tengku Dila. Namun demikian untuk memudahkan pembaca memahami Tengku Dila penulis akan mencoba menelaahnya dari aspek etimologis. Jika ditelaah dari sisi etimologisnya Tengku Dila berasal dari kata Bahasa Manggarai yaitu “Tengku” berarti “Tebing” dan “Dila” berarti “Menyala” sehingga jika digabungkan kedua kata tersebut “Tengku Dila” berarti “Tebing yang Menyala”. Telaah aspek etimologis ini dapat kita konfirmasi dengan kondisi geografis dari Tengku Dila itu sendiri. Kondisi geografis Tengku Dila jika dilihat hampir separuh merupakan bongkahan batu besar yang sangat panjang dan tinggi sehingga pada sisi bagian selatannya membentuk sebuah tebing yang tinggi nan curam. Tebing tersebut jika matahari menyinarinya maka sepintas dari kejauhan Tengku Dila akan terlihat memantulkan cahaya atau seperti menyala-nyala. Dari penjelasan yang sangat sederhana ini penulis menemukan jawaban mengapa masyarakat Loce dan sekitarnya menamakan tempat tersebut Tengku Dila.
Pada bagian lembah Tengku Dila tepatnya pada sisi bagian selatan terdapat sebuah sumber mata air yang warga setempat sering menyebutnya Wae Tengku Dila (wae=air). Wae Tengku Dila dulunya dijadikan tempat pemandian umum bagi warga sekitar khususnya Rumung dan Bolol. Bahkan beberapa tahun terakhir karena terjadi kelangkaan air yang berkepanjangan khususnya pada musim kemarau beberapa kampung sekitar seperti Kilit, Repu, Talang dan Sambi menggunakan Wae Tengku Dila untuk memenuhi kebutuhan air di rumah mereka. Karena debit Wae Tengku Dila cukup besar pada jaman dulu era Pastor Smith asal Belanda (Tuang Smith begitu warga Loce lazim menyapanya) sempat dijadikan proyek untuk dialirkan dari Tengku Dila menuju Loce. Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang di Sano(Sano=Danau), Golo Tera (Pusat Paroki Loce era Tuang Smith) dan beberapa tempat lain disekitaran Kampung Loce ditemukan beberapa bak air tua yang tak terurus.
Selain air, Tengku Dila juga memeiliki hasil hutan yang sangat bermenfaat bagi warga sekitar seperti kayu dan batu untuk keperluan pembuatan rumah, jalan, dan jembatan. Bahkan hampir semua bangunan di Loce baik itu rumah, Sekolah, Gereja, Kantor, dan Puskesmas batu dan kayu berasal dari Tengku Dila. Ini menunjukan betapa bermanfaatnya Tengku Dila untuk masyarakat sekitar khususnya Kampung Loce. Bukan hanya itu, manfaat lain dari tengku Dila yang tak kalah pentingnya adalah sebagai penghasil kayu bakar terbaik dan paling banyak. Hal ini perlu di bahas mengingat Masyarakat Loce dan sekitar masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan masak-memasak di dapur.
Mengingat Tengku Dila mempunyi manfaat yang besar bagi Masyarakat Loce maka menjaga dan melestarikan Tengku Dila menjadi suatu kahursan agar Tengku Dila tetap ada sampai kapanpun tak akan lekang oleh waktu dan tak akan tergerus oleh derasnya pengaruh modernisme. Dan yang paling penting adalah agar kekayaan alam Tengku Dila bias dinikmati oleh anak cucu kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: