TENGKU DILA (Kisah Cinta)

Seperti yang telah dibahas pada Tengku Dila seri Nama & Manfaat pada umumnya masyarakat Loce masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan masak-memasak di rumah. Memngingat Tengku Dila sebagai salah satu penghasil kayu bakar terbaik memungkinkan Tengku Dila sering dikunjungi oleh masyarakat Loce untuk mencari kayu bakar. Bagain lain yang perlu dijelaskan pada bagian awal tulisan ini adalah kebiasaan yang hidup dimasyarakat Manggarai pada umumnya dan masyarakat Loce pada kuhsusnya bahwa setiap anggota keluarga memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Orang tua mempunyai tugas mencari nafkah seperti berladang, berkebun, atau membajak sawah sedangkan anak biasanya bertugas mengurusi rumah seperti membersihkan rumah, memasak, menimba air (sampai sekarang masyarakat Loce belum memiliki air kran dirumah-rumah), dan mencari kayu bakar.

Munculnya beberapa sekolah di Loce seperti SDK Loce, SMPK Widyarti Loce, dan SMAN I Reok Barat di Loce tugas mencari kayu bakar menjadi tidak hanya di rumah tapi dari sekolah. Sekolah memerintahkan kepada anak muridnya untuk membawa kayu bakar ke sekolah pada hari-hari tertentu kemudian kayu bakar tersebut akan dibagikan ke rumah-rumah guru. Sejauh pengalaman penulis jadwal membawa kayu ke sekolah berbeda-berbeda setiap jenjang pendidikan SD biasanya dua kali seminggu yaitu pada hari rabu dan sabtu sedangkan pada jenjang SMP sekali sebulan yaitu pada jum’at terakhir setiap bulannya. Khusus pada jenjang SMA sama dengan jadwal pada jenjang SMP tapi sekarang praktek tersebut sudah tidak ada karena banyak gelombang penolakan dari murid dan orang tua murid.

Perintah mencari kayu bakar dari sekolah inilah yang membawa kisah percintaan itu dimulai. Tengku Dila menjadi primadona bagi anak sekolah sebagai tempat mencari kayu bakar karena letaknya yang cukup dekat, anginnya yang sejuk dengan sinar matahari yang dihalangi oleh rimbunnya pohon menambah daya tarik tersendiri. Biasanya anak sekolah khususnya SMP dan SMA mencari kayu bakar memiliki beberapa pola yaitu pola bergerombol, berpasangan, dan sendiri-sendiri (bagi yang tidak takut dan yang tak punya pasangan). Pola mencari kayu bakar berpasangan inilah yang menjadi dasar argumentasi saya mengapa tulisan ini saya beri judul kisah cinta. Praktek mencari kayu bakar secara berpsangan sering saya temukan di Tengku Dila semasa penulis berada di Loce.

Pada saat mencari kayu bakar biasanya pasangan pria bertugas mengumpulkan kayu bakar untuk dirinya dan untuk pasangannya. Pasangan perempuan biasanya bertugas merapikan kayu bakar yang dikumpulkan oleh pasangan laki-laki kemudian membaginya menjadi dua bagian untuk selanjutnya di “Hujung” (Hujung=ikat). Setelah semuanya selesai barulah pasangan tersebut menggunakan waktu sisa sebelum pulang untuk mengobrol ataupun sedikit bermanja-manjaan, atau pun sekedar bermesraan ditengah hutan yang sepi nan sunyi. Makanya penulis dulu sejak kecil sampai beranjak remaja suka melihat “penampakan” ketika mencari kayu bakar di Tengku Dila, dua sosok makhluk yang satu berambut panjang dan yang satu lagi berambut pendek sedang asik duduk bermesraan di “haju watang” (pohon yang sudah lama tumbang) . kemeseraan itu tidak hanya berhenti sampai disitu, pada saat pulang biasanya jika pasangan perempuan tergelincir atau tak sanggup membawa kayu bakarnya pasangan pria akan berkorban membawa dua “hujung” sekaligus sampai di Sekolah. Begitulah kebiasaan tersebut berlangsung setiap jumat terakhir dalam bulan.

Terlepas dari apakah praktek tersebut benar atau salah, melanggar kesusilaan, ataukah praktek mencari kayu bakar disekolah tindakan yang tidak mencerminkan nilai-nilai pendidikan. Baiklah kita melihatnya dari prespektif positifnya saja. Bahwa kisah ini mencerimankan nilai-nilai cinta yang bias kita petik seperti pengorbanan, kebersamaan, kesetiaan, perhatian, dan rasa sayang. Dan yang paling penting adalah apapun yang orang-orang lakukan, Tengku Dila menjadi saksi bisu semuanya itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: