TENGKU DILA (Mitos Wae Tengku Dila)

Pada bagian lembah Tengku Dila tepatnya pada sisi bagian selatan terdapat sebuah sumber mata air yang warga setempat sering menyebutnya Wae Tengku Dila (wae=air). Wae Tengku Dila dulunya dijadikan tempat pemandian umum bagi warga sekitar khususnya Rumung dan Bolol. Bahkan beberapa tahun terakhir karena terjadi kelangkaan air yang berkepanjangan khususnya pada musim kemarau beberapa kampung sekitar seperti Kilit, Repu, Talang dan Sambi menggunakan Wae Tengku Dila untuk memenuhi kebutuhan air di rumah mereka. Karena debit Wae Tengku Dila cukup besar pada jaman dulu era Pastor Smith asal Belanda (Tuang Smith begitu warga Loce lazim menyapanya) sempat dijadikan proyek untuk dialirkan dari Tengku Dila menuju Loce. Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang di Sano(Sano=Danau), Golo Tera (Pusat Paroki Loce era Tuang Smith) dan beberapa tempat lain disekitaran Kampung Loce ditemukan beberapa bak air tua yang tak terurus.

Paragraf diatas merupakan bagian dari tulisan saya di Tengku Dila seri Nama & Manfaat yang membahas Wae Tengku Dila dari prespektif kemanfaatannya. Tetapi pada pembahasan kali ini kita akan membahas Wae Tengku Dila dari prespektif mitos atau cerita rakyat. Mitos Wae tengku Dila ini merupakan cerita-cerita yang berkembang secara luas dikalangan masyarakat Loce, sekedar catatan bahwa semua cerita-cerita tersebut merupakan kumpulan-kumpulan cerita yang tak pernah di kodifikasi untuk menjadi sebuah naskah cerita yang utuh. Dari sekian banyak mitos tentang Wae Tengku Dila, saya hanya akan membahas dua cerita yang memang penting untuk diketahui karena memiliki nilai adat bagi masyarakat Loce. Adapun dua mitos tersebut adalah mitos tentang Wae Tengku Dila berasal dari Wae Ngginggong (Wae Ngginggong adalah tempat masyarakat Tagol menimba air untuk keperluan masak-memasak) dan mitos Wae Tengku Dila tentang “ata lami wae” (ata lami wae= penunggu, penghuni).

Tagol adalah sebuah kampung yang terletak di sisi utara Kampung Loce yang masih merupakan wilayah adat Gendang Loce dan merupakan satu desa dengan Kampung Loce. Menurut kepercayaan orang Tagol bahwa wae yang terdapat di “puar” Tengku Dila (puar=hutan) merupakan berasal dari tempat mata air mereka yaitu Wae Ngginggong. Menurut hipotesa orang Tagol bahwa air dari Wae Ngginggong dialirkan ke puar Tengku Dila melauli sebuah trowongan alami dari batu. Itulah sebabnya mengapa mata air di tengku Dila muncul dari bebatuan besar nan keras. Bahkan pernah terjadi pada jaman dahulu orang Tagol melakukan percobaan untuk menguji hipotesa tersebut dengan cara menaburkan serbuk kayu dari Wae Ngginggong. Dari percoban tersebut didapatilah fakta (fakta versi kepercayaan orang Tagol) ternyata serbuk kayu tersebut terbawa air dari Wae Ngginggong sampai di Wae Tengku Dila. Sampai sekarang hipotesa ini tak jarang atau bahkan tak pernah diakui oleh masyarakat Loce. Adapun alasannya adalah sampai sekarang belum ada sumber tertulis atau penelitian tentang Wae Tengku Dila.

Pada bagian kedua yang dibahas adalah mitos tentang “ata lami wae”. Cerita tentang penunggu di Wae Tengku Dila memiliki beragam versi dari segi siapa yang menjadi penunggu. Ada yang berpendapat bahwa yang menadi penunggu di Wae Tengku Dila adalah sesosok kakek tua yang memiliki ciri-ciri fisik berambut putih-panjang, memiliki alis mata berwarna putih dan tebal dan berpakian putih (menurut cerita orang pernah melihatnya). Ada juga yang berpendapat bahwa seekor tunalah yang menjadi penunggu di Wae Tengku Dila. Atau ada juga yang berpendapat bahwa seekor kepitnglah yang menjadi penghuni di Wae Tengku Dila. Adanya perbedaan pendapat dikalangan masyarakat Loce terkait dengan penunggu di Wae Tengku Dila menyebabkan terjadi kesimpangsiuran tentang ada tidaknya penunggu di Wae Tengku Dila. Menurut beberapa kalangan di Loce berpendapat bahwa karena kesimpangsiuran inilah mengapa sampai sekarang setiap proyek Wae Tengku Dila untuk dialirkan di ke Loce tidak pernah berhasil meskipun sudah dilakukan ritual adat.

Terlepas benar atau tidaknya kedua mitos diatas, menambah kasanah tentang panorama Tengku Dila. Oleh karena itu,   menjaga dan melstarikan “puar” Tengku Dila adalah tugas dan tanggung jawab kita sebagai generasi penerus agar bias dinikmati oleh anak cucu kita nantinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: