JELET (ENDOK)

Di Kampung Golo Todang ( sekarang namanya Longge ) terdapat dua orang pemuda kakak-beradik yang bernama Andok dan Endok. Pada suatu hari mereka mengadakan suatu perundingan tentang suatu hal. Karena diantara mereka berdua tidak ada kata sepakat si adik pun Iari meninggalkan rumah dan kampung Golo Todang, tanpa tujuan yang jelas.

Dalam perjalanannya Endok menemukan sebuah perkampungan yang sangat kecil namanya Cuang (yang sekarang menjadi hutan lebat) yang dipimpin oleh seorang tu’a golo yang bernama Kimpur Tilu,dan disinilah Endok menetap. Lama-kelamaan Si Endok berniat untuk meminta tanah kepada Kimpur Tilu guna mendirikan rumahnya, dan Kimpur Tilu pun mengindahkan permintaannya. Tetapi bukan tanah di kampung Cuang melainkan tanah di Golo Nggoleng ( yang sekarang bernama Niang Manga ) sebuah tempat yang tidak jauh dan kampung Cuang. Setelah lama menetap di Golo Nggoleng dan belum punya pendamping hidup, dia pun bermaksud untuk mempersunting seorang gadis yang berasal dari kampung sebelah yaitu kampung Adok yang bernama Revas.

Setelab menikah, mereka pun dianugerahi dua orang anak laki-laki dan satu perempuan yang masing-masing bemama adalah Cande, Pande dan Junggam. Untuk menghidupi keluarganya, Endok mencari nafkah dengan berkebun disekitar Golo Nggoleng. Melihat Endok bekerja keras dan memperoleh hasil yang sangat memuaskan, Kimpur Tilu sang tuan tanah merasa iri hati dan sakit hati, tetapi semua rasa iri dan dendam disimpannya dalam hati.

Pada suatu hari, Endok pergi meminta tanah kepada tuan tanah seluas tikar ( loce) tetapi bukan tikar betulan melainkan kulit kerbau yang seluas tikar (loce) atas dasar inilah Endok menamakan kampung ini Loce. Karena Kimpur Tilu masih mendedam rasa iri hati, ia pun ingin menguji Si Endok dan berkata “Endok jika engkau bisa mengiris kulit kerbau ini setelah itu engkau mengukur tanah sepanjang kulit kerbau yang telah kamu iris, itulah yang menjadi milikmu” Kimpur Tilu berpikir bahwa kulit kerbau yang sebesar tikar tadi hanya bisa mengukur tanah beberapa meter saja, yang terjadi di luar dugaannya.

Berkat kerja keras Endok dia bisa mengukur tanah mulai dari tempat ia tinggal sampai di Reo yang luasnya ribuan hektar terkejutlah Kimpur Tilu dan tambah sakit hati. Merasa disakiti Kimpur Tilu ingin sekali membunuh si Endok.

Ia menyusun rencana untuk mengajak Si Endok pergi berburu babi landak di Wae Petus.

Setelah Kimpur Tilu menyusun rencananya pergilah ia ke rumah Endok. Karena Endok tergiur oleh ajakan Kimpur Tilu, ia mengiakan saja ajakanya sesampai di Wae Petus mereka berdua berunding siapa yang masuk ke dalam gua tempat babi landak berada, sebab anjing-anjing sudah berada dalam gua tersebut. Lalu Kimpur Tilu berkata “karena engkau yang punya anjing maka engkau saja yang masuk”padahal Kimpur Tilu berniat jahat.

Setelah Endok berada didalam gua lalu Kimpur Tilu menutup gua itu dengan batu besar agar si Endok tidak dapat keluar Lama kemudian Kimpur Tilu pun memanggil Endok ,Endok menjawab “saya ada disini Kimpur Tilu”.

Setelah Endok menangkap binatang buruan itu dia bergegas keluar ,niatnya untuk keluar tidak kesampaian karena pintu gua yang tadinya terbuka sekarang tertutup oleh batu besar dan Kimpur Tilu sekali lagi memanggil Endok ,“Endok kamu dimana “saya di sini Kimpur Tilu “kata Endok, sementara si Endok menjawab, Kimpur Tilu menusuk dari luar dengan tombak, Endok cepat melihat tombak itu dan cepat-cepat menahan dengan binatang buruannya.Kimpur Tilu mengira bahwa Endok sudah mati karena diujung tombak sudah berlumuran darah.

Sekali lagi Kimpur Tilu memanggil Endok untuk mengetahui apakah endok masih hidup atau sudah mati dan Endok pun tidak menjawab.Beberapa lama kemudian Kimpur Tilu pulang meninggalkan tempat itu dan pergi ke rumah Si Endok dengan tujuan mengusir anak serta istrinya Endok.

Sesampainya di rumah Endok dia berkata “Revas kamu harus pergi dan meninggalkan tempat ini bawa serta anak-anak kamu”Revas menjawab”ada apa ini?

Kenapa sampai begini dan mana si Endok ,kenapa ia tidak pulang bersama kamu?”ah berisik saya tidak mau tahu pokoknya kamu serta anak-anak kamu harus angkat kaki dari rumah ini “kata Kimpur Tilu dengan suara yang menakutkan.Revas menjawab “oke kami akan meninggalkan tempat ini tetapi setelah panen nanti. Pada waktu itu Endok masih berada dalam gua,sudah berbagai cara ia lakukan agar bisa keluar dari gua itu namun semuanya gagal.

Timbul dalam pikirannya untuk memanfaatkan anjing-anjingnya untuk membuka pintu gua.Endok memanggil anjing-anjingnya dan berkata “saya bersumpah, jika kalian bisa membuka pintu gua ini ,kalian akan kujadikan temanku dan sampai kepada keturunan kunanti tidak akan memakan kalian ,seandaianya ada yang melanggar janji kita maka ia pantas untuk dikutuk.

Anjing-anjing ini menuruti perintah tuannya selama tujuh hari dan sehari kemudian anjing-anjing tadi bisa membuka pintu gua itu.Setelah keluar dari gua itu ,ia pun duduk dengan lemas diatas batu gua itu karena tidak makan selama delapan hari.Pada waktu itu lstrinya pergi menimba air di Wae Petus, melihat itu anjing lari mendapati Si Revas dan menciumnya. Revas pun terkejut lalu ia melihat kearah datangnya anjing-anjing tadi didapati. Sang suami sedang duduk lemas di atas batu.

Revas memanggil suaininya Endok tidak bisa menjawab ia hanya bisa memakai bahasa isyarat yang artinya menyuruh istrinya katanya” sebentar sore kau harus jemput saya dekat rumah, dan membawa sokal, besar tetapi sebelum itu kamu harus membuat lubang di bawah kolong rumah tepat lurus di kamar tidur agar tidak diketahui oleh anak-anak kita tentang keberadaan saya”, sore itu semua rencana berjalan dengan lancar Endok sudah berada dalam kamar ia menyuruh Revas agar Ia perintahkan semua anak-anak agar tidak masuk kamar dan membawa batu asa untuk mengasa parangnya.

Sepuluh hari kemudian ia menyuruh istrinya untuk menaruh lesung dan anak lesung di pintu rumah. Pada saat itu juga Kimpur Tilu datang yang kedua kalinya bertujuan mengusir Revas berserta anak-anaknya. Katanya” hei Revas kalau kalian tidak pulang hari ini kalian akan kubunuh” sementara Kimpur Tilu berbicara, Endok muncul dari dalam kamar bawa dengan pedangnya dan membelah lesung dan anak lesung untuk membuktikan kejantananya, melihat itu Kimpur Tilu lari pontang-panting Si Endok mengejarnya dari belakang. Sesampainya di sebuah bukit Kimpur Tilu meloncat ( bahasa Manggarai: Tagol itulah sebabnya nama kampung di bukit tersebut adalah Tagol).

Sebuah batu besar, dari situ Kimpur Tilu lari lagi sesampainya di Wingkul Motang di situlah Endok memenggal lehernya tetapi usaha itu gagal yang dipenggal bukan leher tetapi telinganya. Karena lelah akhirnya Endok pulang ke rumahnya, sementara Kimpur Tilu lari dan kembali ke kampungnya ia menceritakan semua kejadian itu kepada sanak saudaranya. Ia berkata bahwa kita tidak bisa melawan Si Endok dan kita harus meninggalkan kampung ini.

Endok hidup bahagia tinggal di kampung Golo Nggoleng sampai ia mati dan dikuburkan di sana dan sampat dengan sekarang Golo Nggoleng menjadi tempat bersejarah bagi orang Loce.

 WAWANCARA

Narasumber: Yakobus Antus

  1. Bapak, sebenarnya siapa nama nenek moyang orang Loce? Nama aslinya adalah Endok tetapi kerap kali orang Loce memanggilnya Jelet, karena itu merupakan julukannya.
  2. Dari manakah asal nenek moyang orang Loce? Nenek moyang orang Loce berasal dan Golo Ta’ang yang sekarang namanya Longge.
  3. Lalu mengapa sampai Endok berada di Loce? Ya, benar sekali. Ceritanya begini pada suatu hari Endok ini berunding dengan kakaknya tentang suatu hal tetapi karena mereka berdua tidak menemukan kata sepakat Endok pun lari meninggalkan kampung Longge.
  4. Apakah pada waktu itu pelariannya langsung tinggal di Niang Manga? Tidak, terlebih dahulunya dia terdampar di kampung Cuang yang dipimpin oleh seorang Tu’a yaitu Kimpur Tilu dan disitulah Endok tinggal menetap. Setelah lama menetap ia ingin meminta tanah kepada Kimpur Tilu untuk mendirikan rumah. Kimpur Tilu memberikan dia tanah di Golo Nggoleng yang sekarang namanya Niang manga.
  5. Kalau begitu setelah dia mendirikan rumab di Golo Nggoleng apakah Endok berniat untuk mengambil istri? karena biasanya orang Manggarai apabila masih muda sudah memiliki rumah sendiri pasti setelah itu orang tersebut mengambil istri. Pernyataan itu benar adanya. sebab setelah ia mendirikan rumah. ia mempersunting seorang gadis yang berasal dari Adok yang bernama Revas. Setelah lama menikah mereka dianugeraikan tiga orang anak.
  6. Apa yang dilakukan Endok untuk menghidupi keluarganya? Yang dia lakukan adalah dia bekerja membanting tulang mengolah tanah di sekitar rumahnya. Dan berkat kerja kerasnya mereka berhasil. Melihat itu Kimpur Tilu merasa iri dan sakit hati.
  7. Lalu bagaimana cara Kimpur Tilu mengobati sakit hatinya? Ia menginginkan bahwa Si Endok mati dengan cara mengantar Endok pergi ke dalam Gua di Wae Petus, lalu ia menutupnya dari luar dengan batu besar. Endok pun tidak kehilangan akal Ia meminta bantuan anjing dan berkata: saya bersumpah! Jika kalian bisa membuka pintu Gua ini kalian akan kujadikan temanku dan sampai kepada keturunanku nanti tidak akan memakan kalian”
  8. Apa tindakan pembalasan dari Endok? Dia ingin membunuh Kimpur Tilu ia mengejar Kimpur Tilu sampai di Wingkul Motang. Di tempat inilah Endok memenggal Si kimpur Tilu. tetapi tidak kesampaian ia hanya bisa memenggal telinganya saja dan setelah itu Kimpur Tilu lari dan meninggalkan Kampung Cuang sementar itu, Endok hidup bahagia di Niang Manga sampai ia rneninggal dan dikuburkan di sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: