RESHUFFLE: BAYAR UTANG POLITIK

Sebelum pengumuman mentri baru kemarin, wacana reshuffle yang dikeluarkan oleh Presiden SBY sungguh sangat menyita perhatian publik di Negeri ini. Dari media cetak hingga online ramai-ramai membicarakannya, bak katak dimusim hujan. Tidak hanya itu, mentri-mentri yang diisukan bakal di-reshuffle  dibuat geger olehnya.

parpol-parpol anggota koalisi juga tak mau ketinggalan, tidak tanggung-tanggung akibat keputusan Presiden tersebut  anggota koalisi juga mulai pasang badan. bahkan ada beberapa partai politik mulai gencar melakukan komentar di beberapa media, seperti yang diberitakan oleh Media ini(sabtu, 15 oktober 2011) ada yang meminta tambahan kursi sampai akan mengundurkan diri dari anggota Partai koalisi.

Secara konstitusional memang perombakan kabinet adalah hak prerogatif presiden, itu berarti Presiden mempunyai hak penuh dalam penentuan mentri-mentri barunya tanpa diintervensi oleh siapapun. Hal tersebut bertujuan agar dalam menentukan mentri-mentrinya presiden harus mengedepankan kepentingan rakyat ketimbang aspirasi sekelompok orang.

Dilain pihak presiden juga terikat kontrak dengan partai politik, akibatnya presiden juga mesti mempertimbangkan aspirasi anggota koalisi jika tidak itu bisa menimbulkan masalah. Satu fakta menarik terkait koalisi ini yaitu, hampir pasti setiap partai politik anggota koalisi menginginkan kadernya ada dalam KIB II. Perlu kita ketahui juga bahwa kekuatan politik terkadang lebih dominan ketimbang yang lain. Itu berarti tak bisa dipungkiri bahwa mentri-mentri terpilih banyak dari kalangan partai politik.

Presiden SBY sudah mengumumkan mentri-mentri barunya, sepintas kita melihat memang ke-8 mentri baru tersebut adalah wajah-wajah baru di KIB II tetapi jika kita melihat lebih jauh mentri-mentri terpilih banyak dari kalangan partai politik. Lah pertanyaannya, bukankah mentri-mentri terdahulu yang memiliki catatan rapor merah dari kalangan parpol?

Jika memang  demikian sudah pasti kita tahu bahwa memang isu reshuffle tersebut bukanlah untuk kepentingan rakyat banyak tetapi untuk menuntaskan kontrak politik dengan parpol anggota koalisi atau dengan kata lain  reshuffle  hanyalah sebuah momentum bagi SBY untuk melunasi utang-utang politiknya bersama dengan anggota partai koalisi. Jadi benar apa yang dikatakan oleh beberapa pengamat, bahwa memang isu reshuffle  ini adalah sebuah sinetron yang disutradarai oleh SBY, yang bertujuan untuk menghibur rakyat. Akhirnya harapan rakyat dengan adanya reshuffle ini akan membawa sebuah perubahan, hanyalah sebuah ilusi belaka.

SUMBER: KORAN SINDO

Tulisan ini merupakan tulisan saya yang dimuat di KORAN SINDO pada bagian SUARA MAHASISWA pada tanggal 24 Oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: