TENGKU DILA (Kisah Cinta)

Seperti yang telah dibahas pada Tengku Dila seri Nama & Manfaat pada umumnya masyarakat Loce masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan masak-memasak di rumah. Memngingat Tengku Dila sebagai salah satu penghasil kayu bakar terbaik memungkinkan Tengku Dila sering dikunjungi oleh masyarakat Loce untuk mencari kayu bakar. Bagain lain yang perlu dijelaskan pada bagian awal tulisan ini adalah kebiasaan yang hidup dimasyarakat Manggarai pada umumnya dan masyarakat Loce pada kuhsusnya bahwa setiap anggota keluarga memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Orang tua mempunyai tugas mencari nafkah seperti berladang, berkebun, atau membajak sawah sedangkan anak biasanya bertugas mengurusi rumah seperti membersihkan rumah, memasak, menimba air (sampai sekarang masyarakat Loce belum memiliki air kran dirumah-rumah), dan mencari kayu bakar.

Munculnya beberapa sekolah di Loce seperti SDK Loce, SMPK Widyarti Loce, dan SMAN I Reok Barat di Loce tugas mencari kayu bakar menjadi tidak hanya di rumah tapi dari sekolah. Sekolah memerintahkan kepada anak muridnya untuk membawa kayu bakar ke sekolah pada hari-hari tertentu kemudian kayu bakar tersebut akan dibagikan ke rumah-rumah guru. Sejauh pengalaman penulis jadwal membawa kayu ke sekolah berbeda-berbeda setiap jenjang pendidikan SD biasanya dua kali seminggu yaitu pada hari rabu dan sabtu sedangkan pada jenjang SMP sekali sebulan yaitu pada jum’at terakhir setiap bulannya. Khusus pada jenjang SMA sama dengan jadwal pada jenjang SMP tapi sekarang praktek tersebut sudah tidak ada karena banyak gelombang penolakan dari murid dan orang tua murid.

Perintah mencari kayu bakar dari sekolah inilah yang membawa kisah percintaan itu dimulai. Tengku Dila menjadi primadona bagi anak sekolah sebagai tempat mencari kayu bakar karena letaknya yang cukup dekat, anginnya yang sejuk dengan sinar matahari yang dihalangi oleh rimbunnya pohon menambah daya tarik tersendiri. Biasanya anak sekolah khususnya SMP dan SMA mencari kayu bakar memiliki beberapa pola yaitu pola bergerombol, berpasangan, dan sendiri-sendiri (bagi yang tidak takut dan yang tak punya pasangan). Pola mencari kayu bakar berpasangan inilah yang menjadi dasar argumentasi saya mengapa tulisan ini saya beri judul kisah cinta. Praktek mencari kayu bakar secara berpsangan sering saya temukan di Tengku Dila semasa penulis berada di Loce.

Pada saat mencari kayu bakar biasanya pasangan pria bertugas mengumpulkan kayu bakar untuk dirinya dan untuk pasangannya. Pasangan perempuan biasanya bertugas merapikan kayu bakar yang dikumpulkan oleh pasangan laki-laki kemudian membaginya menjadi dua bagian untuk selanjutnya di “Hujung” (Hujung=ikat). Setelah semuanya selesai barulah pasangan tersebut menggunakan waktu sisa sebelum pulang untuk mengobrol ataupun sedikit bermanja-manjaan, atau pun sekedar bermesraan ditengah hutan yang sepi nan sunyi. Makanya penulis dulu sejak kecil sampai beranjak remaja suka melihat “penampakan” ketika mencari kayu bakar di Tengku Dila, dua sosok makhluk yang satu berambut panjang dan yang satu lagi berambut pendek sedang asik duduk bermesraan di “haju watang” (pohon yang sudah lama tumbang) . kemeseraan itu tidak hanya berhenti sampai disitu, pada saat pulang biasanya jika pasangan perempuan tergelincir atau tak sanggup membawa kayu bakarnya pasangan pria akan berkorban membawa dua “hujung” sekaligus sampai di Sekolah. Begitulah kebiasaan tersebut berlangsung setiap jumat terakhir dalam bulan.

Terlepas dari apakah praktek tersebut benar atau salah, melanggar kesusilaan, ataukah praktek mencari kayu bakar disekolah tindakan yang tidak mencerminkan nilai-nilai pendidikan. Baiklah kita melihatnya dari prespektif positifnya saja. Bahwa kisah ini mencerimankan nilai-nilai cinta yang bias kita petik seperti pengorbanan, kebersamaan, kesetiaan, perhatian, dan rasa sayang. Dan yang paling penting adalah apapun yang orang-orang lakukan, Tengku Dila menjadi saksi bisu semuanya itu.

TENGKU DILA (Mitos Wae Tengku Dila)

Pada bagian lembah Tengku Dila tepatnya pada sisi bagian selatan terdapat sebuah sumber mata air yang warga setempat sering menyebutnya Wae Tengku Dila (wae=air). Wae Tengku Dila dulunya dijadikan tempat pemandian umum bagi warga sekitar khususnya Rumung dan Bolol. Bahkan beberapa tahun terakhir karena terjadi kelangkaan air yang berkepanjangan khususnya pada musim kemarau beberapa kampung sekitar seperti Kilit, Repu, Talang dan Sambi menggunakan Wae Tengku Dila untuk memenuhi kebutuhan air di rumah mereka. Karena debit Wae Tengku Dila cukup besar pada jaman dulu era Pastor Smith asal Belanda (Tuang Smith begitu warga Loce lazim menyapanya) sempat dijadikan proyek untuk dialirkan dari Tengku Dila menuju Loce. Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang di Sano(Sano=Danau), Golo Tera (Pusat Paroki Loce era Tuang Smith) dan beberapa tempat lain disekitaran Kampung Loce ditemukan beberapa bak air tua yang tak terurus.

Paragraf diatas merupakan bagian dari tulisan saya di Tengku Dila seri Nama & Manfaat yang membahas Wae Tengku Dila dari prespektif kemanfaatannya. Tetapi pada pembahasan kali ini kita akan membahas Wae Tengku Dila dari prespektif mitos atau cerita rakyat. Mitos Wae tengku Dila ini merupakan cerita-cerita yang berkembang secara luas dikalangan masyarakat Loce, sekedar catatan bahwa semua cerita-cerita tersebut merupakan kumpulan-kumpulan cerita yang tak pernah di kodifikasi untuk menjadi sebuah naskah cerita yang utuh. Dari sekian banyak mitos tentang Wae Tengku Dila, saya hanya akan membahas dua cerita yang memang penting untuk diketahui karena memiliki nilai adat bagi masyarakat Loce. Adapun dua mitos tersebut adalah mitos tentang Wae Tengku Dila berasal dari Wae Ngginggong (Wae Ngginggong adalah tempat masyarakat Tagol menimba air untuk keperluan masak-memasak) dan mitos Wae Tengku Dila tentang “ata lami wae” (ata lami wae= penunggu, penghuni).

Tagol adalah sebuah kampung yang terletak di sisi utara Kampung Loce yang masih merupakan wilayah adat Gendang Loce dan merupakan satu desa dengan Kampung Loce. Menurut kepercayaan orang Tagol bahwa wae yang terdapat di “puar” Tengku Dila (puar=hutan) merupakan berasal dari tempat mata air mereka yaitu Wae Ngginggong. Menurut hipotesa orang Tagol bahwa air dari Wae Ngginggong dialirkan ke puar Tengku Dila melauli sebuah trowongan alami dari batu. Itulah sebabnya mengapa mata air di tengku Dila muncul dari bebatuan besar nan keras. Bahkan pernah terjadi pada jaman dahulu orang Tagol melakukan percobaan untuk menguji hipotesa tersebut dengan cara menaburkan serbuk kayu dari Wae Ngginggong. Dari percoban tersebut didapatilah fakta (fakta versi kepercayaan orang Tagol) ternyata serbuk kayu tersebut terbawa air dari Wae Ngginggong sampai di Wae Tengku Dila. Sampai sekarang hipotesa ini tak jarang atau bahkan tak pernah diakui oleh masyarakat Loce. Adapun alasannya adalah sampai sekarang belum ada sumber tertulis atau penelitian tentang Wae Tengku Dila.

Pada bagian kedua yang dibahas adalah mitos tentang “ata lami wae”. Cerita tentang penunggu di Wae Tengku Dila memiliki beragam versi dari segi siapa yang menjadi penunggu. Ada yang berpendapat bahwa yang menadi penunggu di Wae Tengku Dila adalah sesosok kakek tua yang memiliki ciri-ciri fisik berambut putih-panjang, memiliki alis mata berwarna putih dan tebal dan berpakian putih (menurut cerita orang pernah melihatnya). Ada juga yang berpendapat bahwa seekor tunalah yang menjadi penunggu di Wae Tengku Dila. Atau ada juga yang berpendapat bahwa seekor kepitnglah yang menjadi penghuni di Wae Tengku Dila. Adanya perbedaan pendapat dikalangan masyarakat Loce terkait dengan penunggu di Wae Tengku Dila menyebabkan terjadi kesimpangsiuran tentang ada tidaknya penunggu di Wae Tengku Dila. Menurut beberapa kalangan di Loce berpendapat bahwa karena kesimpangsiuran inilah mengapa sampai sekarang setiap proyek Wae Tengku Dila untuk dialirkan di ke Loce tidak pernah berhasil meskipun sudah dilakukan ritual adat.

Terlepas benar atau tidaknya kedua mitos diatas, menambah kasanah tentang panorama Tengku Dila. Oleh karena itu,   menjaga dan melstarikan “puar” Tengku Dila adalah tugas dan tanggung jawab kita sebagai generasi penerus agar bias dinikmati oleh anak cucu kita nantinya.

TENGKU DILA (nama & manfaat)

Tengku Dila sebuah nama yang sangat asing bagi pembaca, tetapi itu tidak berlaku bagi warga masyarakat Loce dan sekitarnya. Tengku Dila adalah nama sebuah hutan blantara di sisi timur kampung Loce-Desa Loce-kec. Reok Barat-kab. Manggarai-Flores. Entah mengapa tempat tersebut di beri nama Tengku Dila, sampai sekarang belum ada sumber tertulis maupun lisan tentang pemberian nama Tengku Dila. Namun demikian untuk memudahkan pembaca memahami Tengku Dila penulis akan mencoba menelaahnya dari aspek etimologis. Jika ditelaah dari sisi etimologisnya Tengku Dila berasal dari kata Bahasa Manggarai yaitu “Tengku” berarti “Tebing” dan “Dila” berarti “Menyala” sehingga jika digabungkan kedua kata tersebut “Tengku Dila” berarti “Tebing yang Menyala”. Telaah aspek etimologis ini dapat kita konfirmasi dengan kondisi geografis dari Tengku Dila itu sendiri. Kondisi geografis Tengku Dila jika dilihat hampir separuh merupakan bongkahan batu besar yang sangat panjang dan tinggi sehingga pada sisi bagian selatannya membentuk sebuah tebing yang tinggi nan curam. Tebing tersebut jika matahari menyinarinya maka sepintas dari kejauhan Tengku Dila akan terlihat memantulkan cahaya atau seperti menyala-nyala. Dari penjelasan yang sangat sederhana ini penulis menemukan jawaban mengapa masyarakat Loce dan sekitarnya menamakan tempat tersebut Tengku Dila.
Pada bagian lembah Tengku Dila tepatnya pada sisi bagian selatan terdapat sebuah sumber mata air yang warga setempat sering menyebutnya Wae Tengku Dila (wae=air). Wae Tengku Dila dulunya dijadikan tempat pemandian umum bagi warga sekitar khususnya Rumung dan Bolol. Bahkan beberapa tahun terakhir karena terjadi kelangkaan air yang berkepanjangan khususnya pada musim kemarau beberapa kampung sekitar seperti Kilit, Repu, Talang dan Sambi menggunakan Wae Tengku Dila untuk memenuhi kebutuhan air di rumah mereka. Karena debit Wae Tengku Dila cukup besar pada jaman dulu era Pastor Smith asal Belanda (Tuang Smith begitu warga Loce lazim menyapanya) sempat dijadikan proyek untuk dialirkan dari Tengku Dila menuju Loce. Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang di Sano(Sano=Danau), Golo Tera (Pusat Paroki Loce era Tuang Smith) dan beberapa tempat lain disekitaran Kampung Loce ditemukan beberapa bak air tua yang tak terurus.
Selain air, Tengku Dila juga memeiliki hasil hutan yang sangat bermenfaat bagi warga sekitar seperti kayu dan batu untuk keperluan pembuatan rumah, jalan, dan jembatan. Bahkan hampir semua bangunan di Loce baik itu rumah, Sekolah, Gereja, Kantor, dan Puskesmas batu dan kayu berasal dari Tengku Dila. Ini menunjukan betapa bermanfaatnya Tengku Dila untuk masyarakat sekitar khususnya Kampung Loce. Bukan hanya itu, manfaat lain dari tengku Dila yang tak kalah pentingnya adalah sebagai penghasil kayu bakar terbaik dan paling banyak. Hal ini perlu di bahas mengingat Masyarakat Loce dan sekitar masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan masak-memasak di dapur.
Mengingat Tengku Dila mempunyi manfaat yang besar bagi Masyarakat Loce maka menjaga dan melestarikan Tengku Dila menjadi suatu kahursan agar Tengku Dila tetap ada sampai kapanpun tak akan lekang oleh waktu dan tak akan tergerus oleh derasnya pengaruh modernisme. Dan yang paling penting adalah agar kekayaan alam Tengku Dila bias dinikmati oleh anak cucu kita.

AMBIVALENSI PUTUSAN PRAPERADILAN BUDI GUNAWAN

Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu mengajukan komjen Pol Budi Gunawan sebagi calon tunggal Kapolri menggantikan Jendral Sutarman untuk dilakukan Fit and propertest di Komisi III DPR, pada hal sebelumnya KPK sudah mengingatkan Presiden untuk tidak mengajukan BG sebagi calon Kapolri karena BG memiliki rekening gendut. Merasa saran KPK ini tidak di dengar oleh Presiden sehari sebelum dilakukan fit and properties, BG di tetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas kasus gratifikasi.

Karena tidak terima dengan penetapan tersangka tersebut, BG pun menggunakan upaya hukum yaitu praperadilan atas penetapan tersangka yang diterimanya. BG mengajukan praperadilan dengan didampingi pengacaranya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan tuntutan bahwa penetapan tersangka yang dialamatkan kepada dirinya tidak sah karena belum pernah di periksa sebagai saksi di KPK. Singkat cerita, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam amar putusannya menyebutkan bahwa gugatan pemohon (BG) diterima sebagian dan ditolak untuk selebihnya. Adapun yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutus perkara ini adalah pertama, penetapan BG sebagai tersangka didasari oleh alasan subjektivitas semata; kedua, pada saat itu BG bukan penyelenggara Negara maka KPK tidak berhak menangani perkara ini; ketiga, penetapan tersangka BG tidak sesuai dengan prosedur yang lazim berlaku di institusi KPK.

Putusan pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut menimbulkan polemic baik diantara ahli hukum maupun masyarakat luas. Ada dua alasan yang mendasar mengapa putusan tersebut menjadi polemic. Alasan pertama adalah penetapan tersangka bukanlah objek praperadilan disisi lain dalam hukum positif Indonesia mengisyaratkan hakim dalam memutus perkara boleh mempertimbangkan keyakinannya sendiri jika memang undang-undang belum mengatur hal tersebut atau sering disebut penemuan hukum.

Agar mendapat pencerahan dan pemahaman yang komperhensif terhadap polemic tersebut maka perlu adanya penjelasan terkait dengan praperadilan dan apa saja yang menjadi domain dari praperadilan serta tak lupa pula penjelasan terkait dengan penemuan hukum.

Menurut Andi Hamzah praperadilan adalah pra artinya sebelum atau mendahului, berarti praperadilan adalah sama dengan sebelum pemeriksaan disidang pengadilan. Sedangkan menurut Umar Seno Adji praperadilan adalah lembaga yang muncul sebagai perwujudan keaktifan hakimyang di Eropa Tengah mempunyai posisi penting yang mempunyai kewenangan untuk menangani upaya paksa, penahan, penyitaan, penggeledahan badan, rumah, dan pemeriksaan surat-surat. Sedangkan dalam KUHAP Indonesia tugas praperadilan terbatas. Dalam pasal 78 yang berhubungan dengan pasal 77 KUHAP dikatakan bahwa yang melaksanakan wewenang pengadilan negeri memeriksa dan memutus tentang hal berikut ini: pertama, sahtidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; kedua, ganti kerugian dan/atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan, adalah praperadilan. Dalam pasal 79 sampai 81 KUHAP diperinci tugas praperadilan itu yang meliputi tiga hal pokok, yaitu: a. permintaan pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan yang diajukan oleh tersangka, keluarga, atau kuasanya kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya; b. permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan, atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum, pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya; c. permintaan ganti kerugian dan/atau rehabilitasi akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan akibat sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan diajukan oleh tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadina negeri dengan menyebutkan alasannya.

Jika kita merujuk pada penjelasan tentang praperadilan diatas sangat terang bahwa tidak ada satu katapun yang memuat terakit dengan penetapan tersangka. Dengan demikian adanya argumentasi hukum yang menyebutkan bahwa penetapan tersangka bukanlah objek sengketa praperadilan dibenarkan menurut hukum positif. Oleh karena itu, seharusnya terkait dengan praperadilan yang dilakukan oleh tersangka BG sudah sepatutnya ditolak karena bukan merupakan wewenang praperadilan untuk menanganinya.

Disisi lain adanya argumentasi hukum yang mengatakan bahwa dalam memutus suatu perkara hakim boleh memutus perkara diluar hukum positif sangatlah multi interpretative dan menimbulkan ketidakpastian hukum. Adapun alasannya antaralain pertama, apakah penemuan hukum tersebut murni karena dorongan nurani hakim berdasarkan prinsip-prinsip keadilan ataukah karena tekanan-tekanan pihak lain yang berkepentingan. Kedua, sejauh mana manfaat dari penemuan hukum tersebut bagi penegakan hukum di masa datang atau justru putusan terebut menimbulkan permasalahan baru dimana karena putusan praperadilan tersebut menjadi yurisprudensi maka setiap tersangka nantinya dapat mengajukan praperadilan. Jadi putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menyatakan penetapan tersangka BG adalah tidak sah bukanlah masuk katogeri penemuan hukum karena dipengaruhi oleh tekanan-tekanan pihak lain dan menimbulkan permasalahan hukum baru dimasa datang.

TERSANDERA KODE ETIK

Seperti yang kita ketahui bersama akhir-akhir ini media nasional maupun daerah, cetak dan elektronik ramai memberitakan tentang situasi politik di Indonesia atau lebih tepatnya politisasi hukum. Hal tersebut bermula semenjak Presiden Joko Widodo mengajukan Budi Gunawan sebagai calon tunggal KAPOLRI untuk dilakukan fit and propertest di komisi III DPR. Sebelum dilakukan Fit and propertest oleh DPR, KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka kasus korupsi dengan dakwaan telah melakukan tindak pidana korupsi yaitu gratifikasi.Beberapa hari setelahnya beredar foto mesra yang diduga adalah ketua KPK Abraham Samad dan Puteri Indonesia 2014.Situasi ini tidak berhenti sampai disini, beberapa hari setelahnya PLT Sekjen PDIP Hasto Kristianto membeberkan bahwa Abraham Samad pernah bertemu dengannya dan beberapa petinggi PDIP sebanyak enam kali untuk membahas terkait dengan keinginan Abraham Samad untuk mendampingi Joko Widodo sebagai Calon Wakil presiden pada bursa Pilpres beberapa waktu lalu. Sehari berselang Polisi menangkap dan menetapkan wakil ketua KPK Bambang Wijayanto sebagai tersangka terkait kasus PEMILUKADA Kota Waringin Barat dakwaannya adalah menyuruh melakukan saksi untuk memberikan keterangan palsu pada sidang perkara PEMILUKADA di Mahkamah Konstitusi.

Focus utama ulasan ini adalah terkait kasus yang menimpa ketua KPK Abrham Samad yang telah melakukan pertemuan dengan beberapa petinggi PDIP sebanyak enam kali. Lebih khusus lagi akan menitikberatkan pada aspek hukum dan kode etiknya saja. Disini tidak akan dibahas apa motifasi Hasto membuka kasus ini kepublik dan mengapa baru sekarang ini diungkap. Alasanya pertama bidang ilmu yang saya geluti adalah hukum.Kedua, mencoba melihat ini dari aspek hukum secara murni tanpa disangkut pautkan dengan politik yang berujung pada politisasi hukum. Ketiga, jika dilihat apa yang diungkapkan oleh Hasto memang akan berpotensi pelanggaran Kode Etik.

Pada bagian lain yang perlu dijelaskan pada bagian awal tulisan ini adalah terkait dengan benar atau tidaknya pertemuan antara Abraham Samad dengan PLT Sekjen PDIP dan beberapa petinggi PDIP lainnya. Semua ulasan pada tulisan ini mengasumsikan (baca:mengandaikan) bahwa benar terjadi pertemuan antara Abraham Samad dengan Hasto. Mengingat sampai sekarang kasus tersebut belum ada kepastian hukum.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa terkait dengan pertemuan Abraham Samad dan Hasto serta beberapa petinggi PDIP lainnya terdapat beberapa versi, versi hasto, versi Abraham Samad, dan Versi Saksi Supraningsih. Oleh karena itu, untuk menjaga kenetralan tulisan ini maka saya akan menggabungkan ketiga versi tersebut dan mencoba membedah semuanya.

Kita mulai dari keterangan yang disampaikan oleh Supriansah yang mengaku sebagai teman Abraham Samad sesama penggiat antikorupsi di Makassar dalam pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri:Pertemuan terjadi 2 kali pada April dan Mei 2014 di Apartermen The Capitar Residence yang hadir adalah Abraham Samad, Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP ketika itu Tjahjo Kumolo, dan beberapa orang lain. Supriansah mengaku tidak ikut sehingga tidak tahu detail pertemuan. Abraham Samad menghubungi Supriansah dan mengajukan permintaan untuk menggunakan apartmen Supriansah bertemu dengan beberapa tokoh.   Teman Abraham Samad  adalah Hasto. Tidak hanya itu, pengakuan hasto dan Rumah kaca yang ditulis di media online Kompasiana menyebtukan terjadi pertemuan antara Samad dan Hasto sebanyak enam kali berikut kronologinya pertemuan pertama :Pada pertemuan pertama ada dua orang Petinggi PDIP senior, dan Petinggi PDIP yunior yang diajak Samad bertemu, di sebuah Apartemen di depan sebuah Mall dan Pusat Perbelanjaan Pacific Place” yang berlokasi di Sudirman Central Business.agenda pertemuan adalah membahas kasus Emir Moeis (Abraham Samad, pada dua petinggi PDIP, Februari 2014). Pertemuan keduaTerjadi pertemuan kedua antara Samad dengan seorang Petinggi PDIP dan salah satu temannya yang bukan orang Partai, pertemuan itu ada asisten Samad yang berinisial “D” di Apartemen mewah di wilayah SCBD, Jakarta Selatan.Agenda pertemuan soal kesediaan Abraham Samad untuk di jarring menjadi pendamping Jokowipertemuan ketigaInilah pertemuan yang diketahui publik secara luas yaitu pada Sabtu (3/5/2014) di Ruang VIP Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta –agenda pertemuan Abraham Samad mempertanyakan nasibnya dalam bursa pilpres mendampingi Jokowi. – pertemuan keempatIa dikenalkan oleh salah satu petinggi PDIP kepada seorang Jenderal Purnawirawan dan membahas soal peluangnya menjadi Cawapres. Pertemuan kelima.Pertemuan kelima terjadi di sebuah gedung, ada petinggi PDIP dan Samad.Saat itu pembicaraan Samad sudah sangat serius dan mendalam, bahkan dari gedung itulah logo Jokowi-Samad sudah mulai beredar dimana-mana.Pertemuan keenamInilah pertemuan yang paling mengerikan dan perlu dicatat khusus, dan juga menjadi alat dalam mengkaji siapakah Samad sesungguhnya.Sebelum masuk ke Pertemuan keenam, baiklah kita lihat diluar lingkungan Samad.Saat itu beberapa elite PDI Perjuangan berkumpul. Ada masukan paling penting bahwa Jusuf Kalla maju jadi Cawapres Jokowi, pertimbangannya amat rasional “Jusuf Kalla memegang massa Golkar, Jusuf Kalla bisa menjadi jangkar Golkar, walaupun Golkar saat ini dipegang Aburizal Bakrie, tapi pengurus-pengurus Golkar pasti akan berpihak ke Jokowi bila ada Jusuf Kalla disana.Sementara itu, Abraham Samad membantah semua keterangan yang diungkapkan oleh saksi dan Hasto dan Rumah Kaca.

Beberapa pertemuan tersebut mengindikasikan terdapat dua potensi pelanggaran yang dilakukan oleh Samad yaitu pelanggaran undang-undang dan kode etik.Pembahasan pertama adalah terkait dengan dugaan pelanggaran undang-undang yaitu Undang-Undang tentang KPK.Ada dua pasal penting yang perlu ditelaah dalam undang-undang ini terkait dengan pertemuan ketua KPK dengan PLT Sekjen PDIP Hasto yaitu pasal 36 ayat 1 dan pasal 65 Undang-Undang tentang KPK. Pasal 36 ayat 1 Undang-undang KPK “Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dilarang:a. mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan tersangka atau pihak lain yang ada hubungan dengan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi dengan alasan apa pun;” Jika melanggar pasal tersebut akan dikenai sanksi pidana yaitu penjara lima tahun hal tersebut terdapat dalam pasal 65 undang-undang KPK yang berbunyi “Setiap Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun.”

Dalam aturan hukum harus terkandung perintah, larangan, dan sanksi.Pasal 36 ayat 1 huruf a tersebut memuat unsur larangan artinya yang tidak boleh dilakukan.Pimpinan KPK yang menjadi subjek hukumnya tidak diperolehkan mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan tersangka atau pihak lain yang ada hubungan dengan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi dengan alasan apa pun. Jika pimpinan KPK tidak mengindahkan perintah pasal tersebut maka akan dikenakan sanksi sesuai yang termaktub dalam pasal 65 undang-undang yang sama, sanksinya adalah pidana penjara 5 tahun.

Dalam kaitannya dengan kasus yang menimpa Abraham Samad dapat disimpulkan (meskipun sedikit premature karena belum terbukti), Abraham Samad berpotensi melanggar pasal 36 ayat 1 huruf a dan pasal 65 undang-undang KPK. Alasanya adalah karena Abraham samad selaku Pimpinan KPK seharusnya tidak diperbolehkan melakukan hubungan dengan dengan tersangka atau pihak lain yang ada hubungan dengan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani KPK dengan alasan apa pun. Pihak lain yang dimaksudkan disini adalah Hasto Kristianto, ini cukup beralasan mengingat Hasto dan petinggi PDIP lainnya adalah dari kalangan partai politik yang notabene banyak kader-kader partai politik termasuk PDIP banyak tersangkut kasus korupsi apalagi dalam beberapa pertemuan tersebut Abraham Samad secara terang-terngan menawarkan beberapa kasus korupsi yang menimpa beberapa kader PDIP.

Selain melanggar dua pasal dalam Undang-undang KPK, Abrama Samad juga berpotensi melanggar kode etik KPK.Hal tersebut disebabkan karena ada beberapa ketentuan dalam kode etik KPK yang dilanggar oleh Abraham Samad. Ketentuan-ketentuan tersebut antara lain sikap dan prilaku, kerahasiaan, komitmen dan loyal, penyalahgunaan, dan interaksi.

Pertama, sikap dan prilaku.Kode etik KPK mengamanatkan agar anggota KPK Senantiasa menjaga sikap netral dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.Tetapi yang dilakukan oleh Samad justru tidak menjaga sikap netral dalam melaksankan tugas dengan menemui pihak-pihak yang terkait dengan kasus korupsi dalam hal ini PLT Sekjen PDIP dan beberapa petinggi PDIP lainnya.Kedua, kerahasiaan.Abraham samad secara terang-terangan membuka kasus korupsi yang terkait dengan beberapa kader PDIP yang berpotensi terjerat korupsi saat pertemuan dengan Hasto dan beberapa petinggi PDIP lainnya. Pada hal dalam kode etik KPK menyebutkan anggota KPK senantiasa Merahasiakan (tidak mengungkapkan) kepada siapapun, langsung maupun tidak langsung, semua informasi selama melaksanakan tugas dan pekerjaan pada komisi, kecualia atas perintah undang-undang, keputusan pengadilan atau arbitrase yang berkekuatan hukum tetap. Ketiga, komitmen dan loyal.Menjalian dan membina hubungan dengan pihak eksternal hanya dalam konteks kepentingan komisi dan kelancaran pelaksanaan tugas komisi dan atas sepengetahuan atasan adalah ketentuan dalam kode etik KPK yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota KPK.Akan tetapi Abraham samad menjalin hubungan dengan pihak eksternal bukan dalam dalam konteks kepentingan komisi dan kelancaran pelaksanaan tugas komisi dan tanpa sepengetahuan pimpinan KPK lainnya.Keempat, penyalahgunaan.Abraham Samad yang secara sengaja menawarkan beerapa kasus korupsi yang menimpa beberapa kader PDIP merupakan termasuk kategori penyalahgunaan karena dalam ketentuan kode etik KPK menyebutkan Menyampaikan data dan/ atau informasi yang diketahui, didengar atau diperolehnya terutama terkait tugas-tugas komisi yang wajib dirahasiakan, kepada pihak media atau pihak lain yang tidak berhak tanpa persetujian tertulis pimpinan komisi. Dan yang kelima adalah interaksi.Ketentuan yang kelima ini sekiranya mirip dengan ketentuan dalam undang-undang KPK yang mengatur terkait dengan larangan. Adapun yang dibahas dalam kode etik KPK adalah Berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan terdakwa, tersangka dan calon tersangka atau keluarga atau pihak lain yang terkait, yang penangan kasusnya sedang diproses komisi, kecuali oleh pegawai yang melaksanakan tugas karena perintah jabatan; dan Melakukan kegiatan lainnya dengan pihak-pihak yang secara langsung atau tidak langsung yang patut diduga menimbulkan benturan kepentingan dalam menjalankan tugas, kewenangan dan posisi sebagai pegawa komisi. dua ketentuan dalam interaksi tersebut justru dilanggar oleh Abraham Samad.

Apapun penyelesaiannya nanti, bahwa satu hal yag pasti bahwa setiap pelanggaran hukum dan kode etik harus di berikan sanksi untuk memenuhi hakikat dari hukum itu sendiri yaitu memberikan efek.

JELET (ENDOK)

Di Kampung Golo Todang ( sekarang namanya Longge ) terdapat dua orang pemuda kakak-beradik yang bernama Andok dan Endok. Pada suatu hari mereka mengadakan suatu perundingan tentang suatu hal. Karena diantara mereka berdua tidak ada kata sepakat si adik pun Iari meninggalkan rumah dan kampung Golo Todang, tanpa tujuan yang jelas.

Dalam perjalanannya Endok menemukan sebuah perkampungan yang sangat kecil namanya Cuang (yang sekarang menjadi hutan lebat) yang dipimpin oleh seorang tu’a golo yang bernama Kimpur Tilu,dan disinilah Endok menetap. Lama-kelamaan Si Endok berniat untuk meminta tanah kepada Kimpur Tilu guna mendirikan rumahnya, dan Kimpur Tilu pun mengindahkan permintaannya. Tetapi bukan tanah di kampung Cuang melainkan tanah di Golo Nggoleng ( yang sekarang bernama Niang Manga ) sebuah tempat yang tidak jauh dan kampung Cuang. Setelah lama menetap di Golo Nggoleng dan belum punya pendamping hidup, dia pun bermaksud untuk mempersunting seorang gadis yang berasal dari kampung sebelah yaitu kampung Adok yang bernama Revas.

Setelab menikah, mereka pun dianugerahi dua orang anak laki-laki dan satu perempuan yang masing-masing bemama adalah Cande, Pande dan Junggam. Untuk menghidupi keluarganya, Endok mencari nafkah dengan berkebun disekitar Golo Nggoleng. Melihat Endok bekerja keras dan memperoleh hasil yang sangat memuaskan, Kimpur Tilu sang tuan tanah merasa iri hati dan sakit hati, tetapi semua rasa iri dan dendam disimpannya dalam hati.

Pada suatu hari, Endok pergi meminta tanah kepada tuan tanah seluas tikar ( loce) tetapi bukan tikar betulan melainkan kulit kerbau yang seluas tikar (loce) atas dasar inilah Endok menamakan kampung ini Loce. Karena Kimpur Tilu masih mendedam rasa iri hati, ia pun ingin menguji Si Endok dan berkata “Endok jika engkau bisa mengiris kulit kerbau ini setelah itu engkau mengukur tanah sepanjang kulit kerbau yang telah kamu iris, itulah yang menjadi milikmu” Kimpur Tilu berpikir bahwa kulit kerbau yang sebesar tikar tadi hanya bisa mengukur tanah beberapa meter saja, yang terjadi di luar dugaannya.

Berkat kerja keras Endok dia bisa mengukur tanah mulai dari tempat ia tinggal sampai di Reo yang luasnya ribuan hektar terkejutlah Kimpur Tilu dan tambah sakit hati. Merasa disakiti Kimpur Tilu ingin sekali membunuh si Endok.

Ia menyusun rencana untuk mengajak Si Endok pergi berburu babi landak di Wae Petus.

Setelah Kimpur Tilu menyusun rencananya pergilah ia ke rumah Endok. Karena Endok tergiur oleh ajakan Kimpur Tilu, ia mengiakan saja ajakanya sesampai di Wae Petus mereka berdua berunding siapa yang masuk ke dalam gua tempat babi landak berada, sebab anjing-anjing sudah berada dalam gua tersebut. Lalu Kimpur Tilu berkata “karena engkau yang punya anjing maka engkau saja yang masuk”padahal Kimpur Tilu berniat jahat.

Setelah Endok berada didalam gua lalu Kimpur Tilu menutup gua itu dengan batu besar agar si Endok tidak dapat keluar Lama kemudian Kimpur Tilu pun memanggil Endok ,Endok menjawab “saya ada disini Kimpur Tilu”.

Setelah Endok menangkap binatang buruan itu dia bergegas keluar ,niatnya untuk keluar tidak kesampaian karena pintu gua yang tadinya terbuka sekarang tertutup oleh batu besar dan Kimpur Tilu sekali lagi memanggil Endok ,“Endok kamu dimana “saya di sini Kimpur Tilu “kata Endok, sementara si Endok menjawab, Kimpur Tilu menusuk dari luar dengan tombak, Endok cepat melihat tombak itu dan cepat-cepat menahan dengan binatang buruannya.Kimpur Tilu mengira bahwa Endok sudah mati karena diujung tombak sudah berlumuran darah.

Sekali lagi Kimpur Tilu memanggil Endok untuk mengetahui apakah endok masih hidup atau sudah mati dan Endok pun tidak menjawab.Beberapa lama kemudian Kimpur Tilu pulang meninggalkan tempat itu dan pergi ke rumah Si Endok dengan tujuan mengusir anak serta istrinya Endok.

Sesampainya di rumah Endok dia berkata “Revas kamu harus pergi dan meninggalkan tempat ini bawa serta anak-anak kamu”Revas menjawab”ada apa ini?

Kenapa sampai begini dan mana si Endok ,kenapa ia tidak pulang bersama kamu?”ah berisik saya tidak mau tahu pokoknya kamu serta anak-anak kamu harus angkat kaki dari rumah ini “kata Kimpur Tilu dengan suara yang menakutkan.Revas menjawab “oke kami akan meninggalkan tempat ini tetapi setelah panen nanti. Pada waktu itu Endok masih berada dalam gua,sudah berbagai cara ia lakukan agar bisa keluar dari gua itu namun semuanya gagal.

Timbul dalam pikirannya untuk memanfaatkan anjing-anjingnya untuk membuka pintu gua.Endok memanggil anjing-anjingnya dan berkata “saya bersumpah, jika kalian bisa membuka pintu gua ini ,kalian akan kujadikan temanku dan sampai kepada keturunan kunanti tidak akan memakan kalian ,seandaianya ada yang melanggar janji kita maka ia pantas untuk dikutuk.

Anjing-anjing ini menuruti perintah tuannya selama tujuh hari dan sehari kemudian anjing-anjing tadi bisa membuka pintu gua itu.Setelah keluar dari gua itu ,ia pun duduk dengan lemas diatas batu gua itu karena tidak makan selama delapan hari.Pada waktu itu lstrinya pergi menimba air di Wae Petus, melihat itu anjing lari mendapati Si Revas dan menciumnya. Revas pun terkejut lalu ia melihat kearah datangnya anjing-anjing tadi didapati. Sang suami sedang duduk lemas di atas batu.

Revas memanggil suaininya Endok tidak bisa menjawab ia hanya bisa memakai bahasa isyarat yang artinya menyuruh istrinya katanya” sebentar sore kau harus jemput saya dekat rumah, dan membawa sokal, besar tetapi sebelum itu kamu harus membuat lubang di bawah kolong rumah tepat lurus di kamar tidur agar tidak diketahui oleh anak-anak kita tentang keberadaan saya”, sore itu semua rencana berjalan dengan lancar Endok sudah berada dalam kamar ia menyuruh Revas agar Ia perintahkan semua anak-anak agar tidak masuk kamar dan membawa batu asa untuk mengasa parangnya.

Sepuluh hari kemudian ia menyuruh istrinya untuk menaruh lesung dan anak lesung di pintu rumah. Pada saat itu juga Kimpur Tilu datang yang kedua kalinya bertujuan mengusir Revas berserta anak-anaknya. Katanya” hei Revas kalau kalian tidak pulang hari ini kalian akan kubunuh” sementara Kimpur Tilu berbicara, Endok muncul dari dalam kamar bawa dengan pedangnya dan membelah lesung dan anak lesung untuk membuktikan kejantananya, melihat itu Kimpur Tilu lari pontang-panting Si Endok mengejarnya dari belakang. Sesampainya di sebuah bukit Kimpur Tilu meloncat ( bahasa Manggarai: Tagol itulah sebabnya nama kampung di bukit tersebut adalah Tagol).

Sebuah batu besar, dari situ Kimpur Tilu lari lagi sesampainya di Wingkul Motang di situlah Endok memenggal lehernya tetapi usaha itu gagal yang dipenggal bukan leher tetapi telinganya. Karena lelah akhirnya Endok pulang ke rumahnya, sementara Kimpur Tilu lari dan kembali ke kampungnya ia menceritakan semua kejadian itu kepada sanak saudaranya. Ia berkata bahwa kita tidak bisa melawan Si Endok dan kita harus meninggalkan kampung ini.

Endok hidup bahagia tinggal di kampung Golo Nggoleng sampai ia mati dan dikuburkan di sana dan sampat dengan sekarang Golo Nggoleng menjadi tempat bersejarah bagi orang Loce.

 WAWANCARA

Narasumber: Yakobus Antus

  1. Bapak, sebenarnya siapa nama nenek moyang orang Loce? Nama aslinya adalah Endok tetapi kerap kali orang Loce memanggilnya Jelet, karena itu merupakan julukannya.
  2. Dari manakah asal nenek moyang orang Loce? Nenek moyang orang Loce berasal dan Golo Ta’ang yang sekarang namanya Longge.
  3. Lalu mengapa sampai Endok berada di Loce? Ya, benar sekali. Ceritanya begini pada suatu hari Endok ini berunding dengan kakaknya tentang suatu hal tetapi karena mereka berdua tidak menemukan kata sepakat Endok pun lari meninggalkan kampung Longge.
  4. Apakah pada waktu itu pelariannya langsung tinggal di Niang Manga? Tidak, terlebih dahulunya dia terdampar di kampung Cuang yang dipimpin oleh seorang Tu’a yaitu Kimpur Tilu dan disitulah Endok tinggal menetap. Setelah lama menetap ia ingin meminta tanah kepada Kimpur Tilu untuk mendirikan rumah. Kimpur Tilu memberikan dia tanah di Golo Nggoleng yang sekarang namanya Niang manga.
  5. Kalau begitu setelah dia mendirikan rumab di Golo Nggoleng apakah Endok berniat untuk mengambil istri? karena biasanya orang Manggarai apabila masih muda sudah memiliki rumah sendiri pasti setelah itu orang tersebut mengambil istri. Pernyataan itu benar adanya. sebab setelah ia mendirikan rumah. ia mempersunting seorang gadis yang berasal dari Adok yang bernama Revas. Setelah lama menikah mereka dianugeraikan tiga orang anak.
  6. Apa yang dilakukan Endok untuk menghidupi keluarganya? Yang dia lakukan adalah dia bekerja membanting tulang mengolah tanah di sekitar rumahnya. Dan berkat kerja kerasnya mereka berhasil. Melihat itu Kimpur Tilu merasa iri dan sakit hati.
  7. Lalu bagaimana cara Kimpur Tilu mengobati sakit hatinya? Ia menginginkan bahwa Si Endok mati dengan cara mengantar Endok pergi ke dalam Gua di Wae Petus, lalu ia menutupnya dari luar dengan batu besar. Endok pun tidak kehilangan akal Ia meminta bantuan anjing dan berkata: saya bersumpah! Jika kalian bisa membuka pintu Gua ini kalian akan kujadikan temanku dan sampai kepada keturunanku nanti tidak akan memakan kalian”
  8. Apa tindakan pembalasan dari Endok? Dia ingin membunuh Kimpur Tilu ia mengejar Kimpur Tilu sampai di Wingkul Motang. Di tempat inilah Endok memenggal Si kimpur Tilu. tetapi tidak kesampaian ia hanya bisa memenggal telinganya saja dan setelah itu Kimpur Tilu lari dan meninggalkan Kampung Cuang sementar itu, Endok hidup bahagia di Niang Manga sampai ia rneninggal dan dikuburkan di sana.

PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG TERKAIT KASUS PERTAMBANGAN PASIR

KRONOLOGI PERKARA

H. RATIM bin KASNADI adalah seorang pengusaha tambang yang terletak di Desa Gemulung Tonggoh Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon melakukan kegiatan penambangan pasir . pada tahun 2005-2006 H. RATIM bin KASNADI  menyuruh pemilik alat pengeruk (Becho) berikut operatornya yaitu Sdr. MANTO dan Sdr. RUSDI dan digunakan untuk mengupas lapisan tanah bagian atas atau cadas lainnya sampai ketemu kandungan pasirnya, setelah itu pasir yang telah dikeruk dikumpulkan dan dilakukan pengayakan sehingga menghasilkan pasir dan batu (Split), kegiatan penambangan pasir tersebut menghasilkan pasir antara 90 (sembilan puluh) sampai 100 (seratus) truk setiap harinya, dengan harga jual Rp. 85.000,- (delapan puluh lima ribu rupiah) per Truk (isi 4 M3) dari uang sejumlah tersebut upah untuk pemilik Becho sebesar Rp 40.000,- (empat puluh ribu rupiah) keuntungan yang diperoleh oleh Terdakwa sebesar Rp.45.000,- (empat puluh lima ribu rupiah) setiap truknya, semua hasil kegiatan dilapangan dilaporkan oleh saksi KASTIM kepada H. RATIM bin KASNADI ;

atas perbuatanya tersebut mengakibatkan :

-      Hilangnya Fungsi lahan sebagai kawasan konservasi air, tanah dan sumber genetik ;

-      Menyebabkan terjadinya kerusakan sifat kimia tanah, sifat phisik tanah, sifat biologi tanah, dan system tata air (Fungsi Hidrologis) ;

-      Telah terjadi perubahan bentang lahan alami dan kehilangan lapisan tanah setebal 5 sampai 7 meter dengan luas sekitar 7,3 Hektar ;

 

dalam dakwaan JPU  H. RATIM bin KASNADI telah melanggar

-       keputusan Bupati Kabupaten Cirebon No. 541-3/Kep/102/2005 tanggal 15 Maret tahun 2005, antara lain :

-       Terdakwa mendapat ijin untuk melakukan penambangan pasir seluas 3 Hektare, namun Terdakwa melakukan penambangan mencapai kurang lebih 7,3 Hektar;

-       Tidak membuat Study Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) dengan mendapat petunjuk teknis dari Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan dan Pertambangan ;

-       Tidak melaksanakan Reklamasi yang dilakukan secara bertahap bersamaan dengan kegiatan Eksploitasi dan harus selesai pada saat penambangan dinyatakan berakhir

Dari keterangan ahli yang diajukan oleh JPU menyebutkan bahwa kerugian yang ditmbulkan dari kegeiatan pertambangan tersebut adalah:

-      Kerugian ekologi sebesar sebesar Rp.59.082.179.500,- (lima puluh sembilan milyar delapan puluh dua juta seratus tujuh puluh sembilan ribu lima ratus rupiah) ;

-      Kerugian Ekonomi sebesar Rp. 20.160.000.000,- (dua puluh milyar seratus enam puluh juta rupiah) ;

-      Pemulihan Ekologi sebesar Rp. 44.711.879.500,- (empat puluh empat milyar tujuh ratus sebelas juta delapan ratus tujuh puluh sembilan ribu lima ratus rupiah) ;

Sehingga jumlah keseluruhan dari kerugian tersebut adalah sebesar Rp.123.854.059.000,- (seratus dua puluh tiga milyar delapan ratus lima puluh empat juta lima puluh sembilan ribu rupiah).

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut JPU menilai terdakwa melakukan tindak pidana yaitu melanggar Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHPidana;

Sibsider

Menyatakan Terdakwa H.RATIM bin KASNADI terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana “Perusakan Lingkungan Hidup” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHPidana dalam dakwaan Primair ; Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa H. RATIM bin KASNADI dengan pidana penjara selama 6 (enam) tahun, dikurangi selama dalam masa penangkapan dan atau penahanan, dengan perintah Terdakwa ditahan di Rutan;

Denda sebesar Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) Subsidair 4 (empat) bulan kurungan.

Dakwaan JPU tersebut sangat berbeda dengan dengan putusan PN

-      Menyatakan Terdakwa H. RATIM bin KASNADI tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam Dakwaan Primair dan Dakwaan Subsidair Penuntut Umum ;

-      Membebaskan Terdakwa H. RATIM bin KASNADI tersebut oleh karena itu dari Dakwaan Primair dan Dakwaan Subsidair Penuntut Umum tersebut ;

-      Memulihkan hak Terdakwa tersebut dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya ;

Mejelis Hakim PN berpendapat bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa adalah kealpaan atau culpa.

SEMENTARA ITU PADA TINGKAT KASASI MA BERPENDAPAT BAHWA

BAHWA ternyata Jaksa / Penuntut Umum tidak dapat membuktikan bahwa

putusan tersebut adalah merupakan pembebasan yang tidak murni, karena Jaksa / Penuntut Umum tidak dapat mengajukan alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar pertimbangan mengenai dimana letak sifat tidak murni dari putusan bebas tersebut dan hanya mengajukan alasan semata-mata tentang penilaian hasil pembuktian yang sebenarnya bukan merupakan alasan untuk memohon kasasi terhadap putusan bebas;

Menimbang, bahwa disamping itu Mahkamah Agung berdasarkan wewenang pengawasannya juga tidak melihat bahwa putusan tersebut dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri dengan telah melampaui batas wewenangnya, oleh karena itu permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Jaksa/Penuntut Umum berdasarkan Pasal 244 Undang-Undang No.8 tahun 1981 (KUHAP) harus dinyatakan tidak dapat diterima;

 

Analisa kasus:

Pada bagian awal alnalisa sederhana ini kami mau memetakan dulu siapa-siapa yang telibat dalam kasus ini dan pernannya dalam melakukan tindak pidana. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa kasus pertambangan pasir tersebut tidak melibatkan hanya satu orang saja melainkan melibatkan beberapa orang pelaku tindak pidana dengan perannya masing-masing yaitu:

     i.        H. RATIM bin KASNADI

Dalam kasus ini H. Ratim adalah pemimpin U.D Makmur Mandiri yang bergerak dalam bidang penggalian pasir. Disini jelas bahawa H. Ratim masuk sebagai bagian dari tindak pidana tersebut sebagai UITLOKING atau dalam  Bahasa Indonesia lebih sering dikenal dengan “mereka yang menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana”. Alasannya adalah H. Ratim telah memenuhi syarat-syarat sebagai uitloking, seperti: pertama, ada seorang yang berkehendak untuk melakukan suatu tindak pidana yaitu tindak pidana pengrusakan lingkungan. Kedua, dia tidak melaksanakan sendiri, disini H. Ratim bersama dengan dua orang bawahannya melakukan poenggalian pasir yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup. Ketiga, dengan satu daya upaya yang telah ditentukan secara limitatif dalam undang-undang. Keempat, menggerakkan orang lain untuk melaksanakan tindak pidana yang dikehendaki, syarat keempat ini H. Ratim adalah orang yang menggerakkan Sdr. Manto dan Sdr. Rusdi untuk melakukan tindak pidana yang dikehendakinya yaitu mengupas lapisan tanah bagian atas atau cadas lainnya sampai ketemu kandaungan pasirnya. Kelima, orang yang digerakkan dalam melakukan tindak pidana adalah orang yang dapat dipertanggungjawabkan, Sdr. Manto dan Sdr. Rusdi adalah orang yang bisa dipertanggung jawabkan karena baik secara jasmani maupun rohani tidak memiliki cacat dan cakap untuk melakukan perbuatan hukum.

   ii.        Sdr. Manto dan Sdr. Rusdi

Dalam kasus ini Sdr. Manto dan Sdr. Rusdi adalah sebagai pelaku tindak pidana alasannya adalah karena Sdr. Manto dan Sdr. Rusdi melakukan operasi untuk mengeruk lapisan tanah bagian atas sampai menemukan kandungan pasirnya, akibat dari tindakan tersebut menyebabkan terjadinya pengrusakan lingkungan hidup. Lebih jelasnya dalam pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

 

 

 

 

 

  1. Dakwaan JPU

Bahwa dakwaan JPU tersebut sudah benar sesuai dengan barang bukti dan undang-undang yang berlaku di Indonesia

  1. Putusan Pengadilan negeri Sumber

Bahwa putusan Pengadilan Negeri tersebut sangat kontradiktif dan melanggar undang-undang, yaitu terdakwa telah melanggar pasal 41 ayat 1 UU No. 23 Tahun 1997 jo pasal 55 ayat 1 ke-2. Bagaimanapun juga perbuatan yang dilakukan oleh terkakwa masuk kedalam daders. Dalam daders tersebut terdakwa masuk sebagai membujuk.

Selain itu, sudah jelas Putusan Pengadilan Negeri Sumber atas kasus yang sama menyatakan bahwa orang yang disuruh oleh terdakwa untuk melakukan kegiatan penambangan melanggar pasal 41 ayat 1 UU No. 23 tahun 1997 dan dihukum. Seharusnya majelis hakim juga dalam putusannya menjadikan putusan tersebut sebagai bahan pertimbangan.

Alasan yang disampaikan oleh Majelis Hakim pengadilan Negeri yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa adalah kealpaan atau culpa sangatlah mengada-ada dan tidak mengandung asas kepastian hukum. Sudah jelas-jelas bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa dengan sengaja dan sadar.

Bahwa alasan-alasan kelapaan dan culpa tersebut  haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

-      Tidak kehati-hatian yang dipergunakan atau tiada ketelitian yang diperlukan;

-      Akibat yang dapat diduga sebelumnya atau keadaan atau akibat yang dapat diduga sebelumnya yang membuat perbuatan yang dapat dihukum;

Sedangkan kriteria kelalaian dirumuskan sebagai berikut : Apabila seseorang melakukan suatu perbuatan dan perbuatan itu menimbulkan suatu akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh Undang-Undang, maka walaupun perbuatan itu tidak dilakukan dengan sengaja, orang itu harus berbuat secara lain, hingga tidak menimbulkan perbuatan itu.

Selain itu jika memang perbuatan tersbut merupakan kealpaan atau kulpa dalam UU No. 23 tahun 1997 sudah mengatur tentang hal ter sebut yaitu pasal 42 ayat 2 UU No. 23 tahun 1997 yang berbunyi “barang siapa yang karena kealpaanya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengtan pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,-(seratus juta rupiah)”.

  1. Putusan MA

Seharusnya MA menerima putusan tersebut dan menghukum terdakwa karena putusan PN Sumber adalah putusan bebas tidak murni bukan putusan bebas murni karena perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa dengan sengaja dan sadar melakukan tindak pidana pengrusakan lingkungan hidup.

 

 

KESIMPULAN

 

Kami menilai bahwa dakwaan JPU sudah benar dan sesuai dengan UU yang berlaku di Indonesia. Sedangkan putusan pengadilan Negeri Sumber sudah salah dan tidak berdasr pada UU yang berlaku dan tidak memberikan asas kepastian hukum karena menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa hanyalah sebuah kealpaan atau culpa. Selain itu, putusan MA juga sudah salah karena sudah jelas-jelas bahwa putusan yang di keluarkan oleh PN bukanlah putusan bebas murni.

Selain itu, seharusnya baik itu JPU, pengadilan tingkat I, tingkat II, dan tingkat akhir memasukkan Sdr. Manto dan Sdr. Rusdi kedalam perkara tersebut karena merka adalah pelaku tindak pidana.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.