EUTHANASIA MELANGGAR HAM

BAB I

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tindakan mematikan orang lain baik disengaja maupun tak disengaja merupakan tindak melanggar Hak Asasi Manusia. Apa lagi dinegara-negara hukum, seperti di Indonesia. Di Indonesia permasalahan tentang HAM diatur dalam UUD 1945 dan dalam KUHP bahkan karena sebegitu pentingnya perlindungan HAM maka didirikan sebuah instansi yang menangani kasus HAM yaitu KOMNASHAM. Tetapi dilain pihak, ditengah arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat seakakn-akan tindakan menghilangkan nyawa orang lain sah adanya asalkan mempunyai alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kadang mereka lupa bahwa yang berhak untuk mengatur kehidupan dan kematian adalah yang transenden.

Euthanase salah satu dari sekian banyak tindakan pelanggaran hak asasi manusia. Euthanasia adalah tindakan mematikan orang lain untuk mengurangi penderitaan skarat. Jika dilihat dari pengertiannya, euthanase merupakan tindakan melanggar HAM. Betapa tidak, menghilangkan nyawa seseorag apapun alasannya adalah sebuah tindakan melanggar hak hidup seseorang. Tetapi konflik yang terjadi sekarang adalah banyak orang punya presepsi yang mengatakan euthanase adalah sebuah tindakan yang sah-sah saja, sebab demi mengurangi penderitaan yang sangat skarat. Perlu diingat tindakan mematikan orang yang dalam sekarat menggambarkan akan sebuah keputusasaan baik si penderita maupun tenaga medis serta orang-orang yang berkepentingan. Euthanasia atau menghilangkan nyawa orang atas permintaan dirinya sendiri sama dengan perbuatan pidana menghilangkan nyawa seseorang. Dan hal ini masih menjadi perdebatan pada beberapa kalangan yang menyetujui euthanasia dan pihak yang tidak setuju euthanasia. Dalam makalah ini penulis tidak menjelaskan euthanasia dari segi agama karena hampir semua agama tidak menyetujui tindakan euthanasia. Atas dasar inilah penulis melihat euthanasia secara lebih detail agar tidak menimbulkan kontaraversi.

  1. Perumusan Masalah
    1. Apa itu euthanasia?
    2. Apa itu Hak Asasi Manusia?
    3. Mengapa Euthanasia melanggar Hak Asasi Manusia?

 

 

BAB II

 PERMASALAHAN

  1. Euthanasia
    1. Pengertian Euthanasia

Secara etimologi terminologi eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu “eu” = baik dan “thanatos” =maut, kematian. Jika digabungkan berarti “kematian yang baik”. Hippokrates pertama kali menggunakan istilah “eutanasia” ini pada “sumpah Hippokrates” yang ditulis pada masa 400-300 SM. berbunyi: “Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu”. Beberapa kata lain yang berdasar pada gabungan dua kata tersebut misalnya: Euthanatio: aku menjalani kematian yang layak, atau euthanatos (kata sifat) yang berarti “mati dengan mudah“, “mati dengan baik” atau “kematian yang baik”. menurut dictionary of law “euthanasia euphemism applied to the (ille-gal) practice of intentionally and painlessly bringing about the death of those suffering from incurable diseases or conditions.” Yang artinya euthanasia adalah “Eufemisme euthanasia diterapkan ke praktek (Ille-gal) mematikan orang dengan sengaja dan tanpa menimbulkan rasa sakit agar terhindar  dari penderitaan dan kondisi penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Seiring dengan perkembangan jaman kata euthanasia mengalami pergeseran makna, sekarang makna euthanasia lebih mengarah kepada tindakan para medis mengakiri hidup pasiennya demi mengurangi penderitan yang skarat. Atas dasar inilah muncul beberapa jenis euthanasia.

  1. Jenis-jenis Euthanasia
    1. Eutanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya
  • Eutanasia agresif : atau suatu tindakan eutanasia aktif yaitu suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan  tenaga kesehatan untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup si pasien.
  • Eutanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeuthanasia (eutanasia otomatis) yaitu Auto-eutanasia pada dasarnya adalah suatu praktek eutanasia pasif atas permintaan. Atau bisa juga diartikan jika seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan si pasien mengetahui bahwa penolakannya tersebut akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah pernyataan tertulis tangan.
  • Eutanasia pasif : juga bisa dikategorikan sebagai tindakan eutanasia negatif yang tidak menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. Tindakan pada eutanasia pasif ini adalah dengan secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien.
  1.  Eutanasia ditinjau dari sudut pemberian izin
  • Eutanasia secara tidak sukarela: apabila seseorang yang tidak berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan misalnya statusnya hanyalah seorang wali dari si pasien.
  • Eutanasia secara sukarela : dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri, namun hal ini masih diperdebatkan.
  1. Eutanasia ditinjau dari sudut tujuan ada tiga yaitu Pembunuhan berdasarkan belas kasihan, Eutanasia hewan, dan Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini adalah bentuk lain daripada eutanasia agresif secara sukarela.
  2. Pengertian HAM

Kalimat Hak Asasi Manusia terdiri dari tiga kata yaitu “hak”, “asasi”, dan “manusia”. Menurut kamus besar bahasa indonesia hak=(benar,sungguh ada, kekuasaan untuk berbuat sesuatu, kewenangan, milik,Kepunyaan), asasi=(mengenai dasar,pokok), dan Manusia= (makhluk yang berakal budi). Sehingga Hak Asasi Manusia adalah hak dasar atau pokok yang dimiliki oleh setiap manusia. Lebih lanjut dijelaskan dalam kamus hukum hak asasi manusia adalah hak yang dilindungi secara internasional, yaitu deklarasi PBB Declaration of Human  Rghat, seperti hak untuk hidup, hak kemerdekan, hak untuk memiliki, hak untuk mengemukakan pendapat dan lain-lain. Karena begitu pentingnya hak asasi manusia ini sehingga hampir disetiap negara mencantumkan HAM sebagai undang-undang. Di Indonesia misalnya, UUD mencantumkan beberapa pasal tentang hak asasi manusia. Dalam pasal 28A UUD dijelaskan mengenai HAM, berbunyi ”setiap orang berhak untuk hidup serta berhak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya. Undang-undang lain yang mejelaskan secara eksplisit tentang hak asasi manusia adalah pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana(KUHP) yang menyatakan bahwa “Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun“. Juga demikian halnya nampak pada peraturan UU no. 39 Thn 1999 ayat 1 “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Dari penjelasan undang-undang di atas menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyau hak untuk hidup dan siapa pun tidak berhak untuk melakukan tindakan melanggar haknya apapun alasannya.

  1. Euthanasia Merupakan Sebuah Pelanggaran HAM

Dewasa ini euthanase mengalami pergeseran makna. seiring dengan brgesernya makna tersebut melahirkan penafsiran-penafsiran  baru tentang euthanasia. Maka dari itu, sekarang pengertian euthanasia lebih mengarah kepada tindakan mengakhiri hidup yang dilakukan para medis untuk mengurangi penderitaan pasienya. Akibat beragamnya penafsiran tentang euthanasia inilah sehinggga sekarang euthanasia menjadi bahan perdebatan. Antara euthanasia melanggar hak asasi manusia atau tidak melanggar hak asasi manusia.

Dalam poin dua telah dijelaskan secara gamblang tentang hak asasi manusia. Jika kita menilai  euthanasia dari aspek hak asasi manusia. Tindakan euthanase adalah perbuatan melanggar hak asasi manusia. Ada beberapa alasan sehingga tindakan euthanasia melanggar hak dasar kehidupan manusia, melanggar  deklarasi  yang dikeluarkan PBB, pasal 28A UUD ’45, KUHAP (pasal344), dan yang paling penting adalah melangkahi wewenang Yang Maha Kuasa.

  1. Terri Schiavo

Untuk memudahkan kita untuk melihat apakah euthanasia melanggar hak asasi manusia atau tidak. Setidaknya kasusuTerri Schiavo dapat membuka mata kita bahwa benar etuhanasia melanggar HAM.

Terri Schiavo (usia 41 tahun) meninggal dunia di negara bagian Florida, 13 hari setelah Mahkamah Agung Amerika memberi izin mencabut pipa makanan (feeding tube) yang selama ini memungkinkan pasien dalam koma ini masih dapat hidup. Komanya mulai pada tahun 1990 saat Terri jatuh di rumahnya dan ditemukan oleh suaminya, Michael Schiavo, dalam keadaan gagal jantung. Setelah ambulans tim medis langsung dipanggil, Terri dapat diresusitasi lagi, tetapi karena cukup lama ia tidak bernapas, ia mengalami kerusakan otak yang berat, akibat kekurangan oksigen. Menurut kalangan medis, gagal jantung itu disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur potasium dalam tubuhnya. Oleh karena itu, dokternya kemudian dituduh malapraktek dan harus membayar ganti rugi cukup besar karena dinilai lalai dalam tidak menemukan kondisi yang membahayakan ini pada pasiennya.

Setelah Terri Schiavo selama 8 tahun berada dalam keadaan koma, maka pada bulan Mei 1998 suaminya yang bernama Michael Schiavo mengajukan permohonan ke pengadilan agar pipa alat bantu makanan pada istrinya bisa dicabut agar istrinya dapat meninggal dengan tenang, namun orang tua Terri Schiavo yaitu Robert dan Mary Schindler menyatakan keberatan dan menempuh langkah hukum guna menentang niat menantu mereka tersebut. Dua kali pipa makanan Terri dilepaskan dengan izin pengadilan, tetapi sesudah beberapa hari harus dipasang kembali atas perintah hakim yang lebih tinggi. Ketika akhirnya hakim memutuskan bahwa pipa makanan boleh dilepaskan, maka para pendukung keluarga Schindler melakukan upaya-upaya guna menggerakkan Senat Amerika Serikat agar membuat undang-undang yang memerintahkan pengadilan federal untuk meninjau kembali keputusan hakim tersebut. Undang-undang ini langsung didukung oleh Dewan Perwakilan Amerika Serikat dan ditandatangani oleh Presiden George Walker Bush. Tetapi, berdasarkan hukum di Amerika kekuasaan kehakiman adalah independen, yang pada akhirnya ternyata hakim federal membenarkan keputusan hakim terdahulu.

 

 

 

 

 

BAB III.

 KESIMPULAN

Dalam bab terdahulu sudah dijelaskan tentang euthanasia dan tentang HAM, secara kreseluruhan dapat disimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan adalah sebuah tindakan keliru. Mereka tidak mempertimbangkan aspek hak asasi setiap orang untuk melakukan euthanasia. Perlu diingat bahwa tidak ada dalam hak asasi manusia menjelaskan hak untuk mati. Maka dari itu tindakan euthanasia adalah sebuah tindakan melanggar hak asasi manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Buku

Curazon, L.B ,2006. Dictionary of Law, edisi keenam. International Law Book Services. Kuala Lumpur.

Darmantyas, 2000. Pulung Gantung: Menyingkap Tragedi Bunuh Diri di Gunung Kidul. Galangpress.

Jogjakarta

Hamzah, Andi, 1986. Kamus Hukum. Ghalia Indonesia. Jakarta

`Poerwadarminta, W.J.S, 1986. Kamus Umum Bahasa Indonsia. Balai Pustaka.      Jakarta

Undang-undang

Undang-undang Dasar 1945 pasal 28A

KUHAP pasal   344

Undang-undang no. 39 tahun 1999 tentang HAM

Websites

www.euthanasia.com

www.kapanlagi.com

http://www.tempointeraktif.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: